Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Masih 'Adakah' Tuhan di 2017?

Fase kehidupan telah banyak dilumuri aneka modernitas. Manusia yang hadir di dalamnya dipaksa takluk atas dalih melepas diri dari ketertinggalan zaman. Siapa yang tak berpacu dengan sajian kemajuan zaman, ia akan diterkam lalu disekap dalam buntalan generasi tak berguna. Jadilah seluruh rutinitas digerakkan pada ketundukan serba mencekik. Kebutuhan diabaikan, keinginan diagungkan. Kepalsuan dikejar, ketulusan dipinggirkan. Kemerdekaan dimatikan, kerakusan dilanggengkan. Inilah bentuk kekuatiran jamak bagi manusia yang masih menyisakan satu pertanyaan sebagai tali tasbih agar tak terseret dalam arus dan badai modernisasi. Tali pengikat dalam bentuk kalimat tanya itu; Masih Adakah Tuhan hari ini dan esok? Pertanyaan menukik ini jelas tak sedang menggusur zat Tuhan sebagai Maha di atas segala-galanya. Namun sedang menggugat gerak zaman yang terus bergulir, menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai makhluk yang berketuhanan.  Tengoklah rutinitas serta daya kejar manusia dewasa

Teror Akhir Tahun

Energi bangsa ini terus saja terkuras jika momentum akhir tahun itu tiba. Aksi teror terjadi di berbagai wilayah. Mulai dari kasus perusakan rumah ibadah, hingga tindakan sadis bom bunuh diri.  Ajaibnya, tensi aksi teror terasa kian meningkat dari tahun ke tahun. Tak terkecuali tahun ini yang menimbulkan kepanikan luar biasa di tengah warga. Lebih mencengangkan lagi, sebab peristiwa tersebut terjadi di beberapa tempat pada hari yang sama.  Peristiwa ini jelas bukan lagi dalam batas-batas yang wajar dimaklumi seadanya. Apalagi jika hanya ditangkap dalam frame berpikir jamak sebagai percikan yang tak berpotensi menjadi kobaran api kelak.  Dalam beberapa diskusi terkait gerakan teror ini, doktrin 'merasa suci' masih tetap menjadi tema besar yang melingkupi cara berpikir para pelaku tersebut. Ini dipicu oleh waham yang terlampau besar terhadap realitas di luar diri mereka sebagai makhluk perusak alam semesta. Sebaliknya, di tangan merekalah otoritas kebenaran itu berad

Saat Maulid Nabi saw, Anda Bawa Apa?

Sulit untuk tak mengucap takjub kepada jutaan penduduk bumi yang menggelar tradisi penghormatan beralas cinta kepada Nabi Muhammad saw. Ini telah menjadi tradisi tahunan di seluruh belahan bumi. Mereka menggelar dengan ragam ekspresi cinta. Di antaranya larut dalam bara api kerinduan yang menyisakan tangis penuh harap. Agar kelak, saat hari kebangkitan itu tiba, sosok Muhammad pilihan Tuhan hadir menjadi saksi atas nama kesetiaan kepadanya. Jadilah syafaat sebagai sebab utama mengapa Tuhan menepikan murkanya kepada umat manusia. Tapi tak dinyana, tradisi penghormatan kepada Nabi Muhammad saw kerap kali berakhir dalam ritual-ritual tanpa makna. Kegembiraan yang diluapkan teramat jauh dari getaran cinta. Yang tersisa hanyalah cerita dan lelucon di antara pengkhotbah dan jamaah. Lalu apa sesungguhnya yang anda bawa saat menghadiri majelis maulid. Apa pula yang anda bawa pulang setelah ritual itu usai?  Dalam perspektif spiritualisme, bahwa di seluruh majelis kerinduan atas nama m

Al-Faqir Sebagai Identitas Diri

Dalam buku Pesantren Studies 2b (2012), Ahmad Baso mengulas seputar kebiasaan orang-orang pesantren menandai diri sebagai al-Faqir. Jika dalam pemaknaan sederhana, jelas akan menyibak kesimpulan patah. Sebab bakal diseret pada asumsi serba kere, terbatas dan tak berdaya saing.  "Ini adalah kebiasaan kalangan pesantren untuk menunjukkan identitas dirinya yang bersikap tawadhu atau merendahkan hati di depan khalayaknya. Bukan merendahkan diri mereka sendiri," demikian ulasan Ahmad Baso.  Padahal, lanjutnya, ini semata-mata untuk tetap menjaga dan merawat bangunan kesucian batin yang terus diasah agar tak lepas kendali, masuk dalam sengkarut kesombongan, riya dan sum'ah. Perilaku ini disebut dengan Iltimasul Ma'dzirah . Yakni, sikap mengedepankan kerendahan hati, lebih menampilkan sisi kekurangan dan kelemahan sebagai bagian dari sikap menjaga gerak-gerak batin.  Ini bukan tanpa landasan, tanpa makna. Sebab Nabi saw-pun mengajarkan satu doa agar tetap dijadi

Stagnasi Toleransi

Gagasan Toleransi akhir-akhir ini tampaknya terus tergerus tanpa daya tangkal. Toleransi di Indonesia terasa memperoleh pukulan telak setelah munculnya kasus dugaan penistaan Agama. Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok diduga telah menistakan agama lewat Qs. Al Maidah: 51. Pihak Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB.NU) telah mempermaklumkan bahwa di balik kisruh yang menasional ini, ada jurang besar terhadap masa depan toleransi berbangsa dan bernegara. Sebab di sana, justeru menjadi surga bagi mereka yang telah lama merasa 'hidup sempit-terhimpit' dengan keragaman, toleransi dan multikulturalisme.  Ajaibnya, kata Yenny Wahid, Direktur Wahid Institute, para pihak yang hari ini concern menjaga dan merawat semangat ke-bhinneka-an juga diseret pada tuduhan sebagai bagian dari partisan salah satu calon Gubernur. Sekaligus diposisikan sebagai agen kekuatan yang harus melawan gerakan radikalisme.  Dalam tinjauan opini publik, jelas telah mewabah sebagai lemparan informa

Pemimpin Itu, Menginspirasi

Kehidupan manusia lebih banyak berada dalam bingkai ketidakpastian. Segala kemungkinan selalu saja ada. Sebelum jauh berada di lingkar kehidupan yang lebih luas, dalam ruang batin pun tetap diliputi oleh konflik kebatinan. Sebelum melerai pertarungan kehidupan di alam makro, meminjam istilah Sachiko Murata, dimensi mikro sepatutnya lebih awal mesti dijinakkan.   Bagi sebagian umat awam, yang jauh dari pusaran kuasa dan kebenaran yang 'diciptakan', suasana kebatinan seperti ini sudah seringkali terjadi. Ditambah lagi dengan maraknya gerakan konspirasi yang terlampau rumit ditarik benang merahnya. Di pentas nasional misalnya, kita sedang dihadapkan pada realitas politik saling sikat. Sekedar untuk jadi pelakon menjernihkan suasana saja, kita butuh kehati-hatian. Sebab dapat menjadi senjata makan tuan. Sebagai misal, Cendekiawan sekaliber Buya Syafii Maarif dalam usia senjanya harus menerima pil pahit atas hujatan haters yang boleh jadi tak pernah pernah bersua dengannya.

Agama, Bangsa dan Media Sosial

Sisi buram era digital tak dapat terhindarkan. Sebab kehadiran teknologi yang makin canggih nyaris berbanding lurus dengan perubahan drastis di tengah-tengah masyarakat.  Dapat dibayangkan, kecepatan berselancar di dunia maya acap kali memunculkan sikap menegasikan objek yang belum tentu dikenali seutuhnya. Tak jarang kita membenci seseorang hanya karena kebencian yang diciptakan oleh dunia maya.  Sangat sejurus dengan teori hipodermik yang digagas sejak 1930 silam. Nilai kebenaranpun bergeser, menjelma dalam standar rating atau tranding topik. Makin banyak yang mencurahkan komentar, makin tinggi pula nilai kebenarannya. Dengan standar kebenaran beralas tranding topik itu, media sosial ternyata mampu menusuk alam kesadaran manusia, untuk bergerak dengan ragam ekspresinya.  Media sosial juga telah mewujud sebagai alat paling canggih menyajikan persepsi negatif terhadap objek apapun. Di sini, pintu masuk untuk menyerang person sangat mudah. Lebih miris, sebab media sosial telah me

Pilkada, Jangan Lupa Bahagia

Keberpihakan atau memilih satu di antara banyak pilihan merupakan keniscayaan. Tidak ada ruang di dunia ini untuk berada pada banyak pilihan dalam ruang dan waktu yang bersamaan. Hukum rasionalitasnya menyatakan demikian.  Alhasil, ada banyak kemungkinan yang bakal terjadi. Salah satunya, dengan kemunculan ragam penonjolan berlebih terhadap siapa pun yang dipandang paling pantas meraih sebuah kemenangan dalam pesta demokrasi kelak. Kompetisi ini sepatutnya dimaknai sebagai arena saling menunjukkan energi positif bagi sebuah proses pembangunan di suatu daerah. Namun tak dapat dielakkan, fakta terkini selalu menampilkan banyak hal yang terkadang lepas dari prediksi dan patronase akal sehat manusia.  Kecenderungan untuk saling menghasut, menonjolkan jagoan, lalu menghinakan lawan nyaris telah dipermaklumkan sebagai tradisi yang wajar diterima. Lebih ironis, itu dianggap sebagai bagian dari dinamika berdemokrasi.  Padahal, watak ketimuran kita sejauh ini tak pernah merestui ha

Media dan Pendidikan Politik

Dalam sebuah diskusi dengan sejumlah tim pemenangan (baca: tim sukses), media acapkali menjadi objek perbincangan yang cukup diseriusi. Pertanyaan utamanya; apakah media benar-benar memiliki kontribusi aktif terhadap agenda pendidikan politik? Ataukah ini sebatas sajak-sajak kompromistis agar terhindar dari praktik berhadap-hadapan dengan media. Sejauh yang kita pahami, media dipandang memiliki posisi strategis dalam proses pencerdasan publik, khususnya di ranah politik. Media dianggap mampu menginjeksi alam berpikir publik dengan sajian konten yang menarik, serta tak luput dari sensasi.  Namun harus juga diakui bahwa media, khususnya media lokal masih cenderung rigid dalam menciptakan inisiatif serta lompatan berpikir yang diprediksi belum ditangkap oleh nalar publik. Artinya, ketika nalar publik lebih cakap dan tanggap memetakan fakta politik, media akan mengalami mati suri.  Sebaliknya, jika media mampu berpikir melampaui alur pikir publik, percayalah, itu tak hanya men

Membaca (Kembali) Peta Sekularisme

Dalam tinjauan sepintas, sekularisme sebatas dipahami sebagai praktik pelucutan agama dari ruang kehidupan umat manusia. Sekularisme bahkan kerap dipandang senang berhadap-hadapan dengan agama hingga mewujud sebagai bagian dari musuh peradaban sepanjang zaman.   Sebatas pengetahuan tersebut, bagi Muhammad Hasan Qadrdan Qaramaliki memberi pemetaan baru dalam memahami posisi serta konsep Sekularisme. Dalam buku "Alquran dan Sekularisme (2011)", Qaramaliki memetakan sekularisme, atau lebih tegasnya, sekularisme religius dalam empat tipe.   Yakni pemisahan agama dari dunia, pemisahan agama dari politik, pemisahan agama dari pemerintahan, dan pemerintahan agamawan. Bukan Pemerintahan agama.   Jika dilihat dari kutub terbesarnya, sekularisme bersumber dari dua alas. Pertama, alas ateisme. Yakni pengingkaran penuh terhadap konsep di luar dimensi materi. Sehingga bicara soal Tuhan, malaikat serta berbagai bentuk-bentuk kegaiban lainnya, segera akan disanggah sebagai per

Bisakah ASN Netral di Pilgub?

Aparatur Sipil Negara (ASN). Dahulu disebut dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Keberadaannya selalu menarik dicermati khususnya setiap kali hajatan politik digelar.  Dilema yang terus dihadapi adalah tuntutan agar dapat bersikap profesional, serta netral dalam politik. Tapi di sisi lain, seluruh kebijakan yang dijalankan, adalah bagian yang tak terpisahkan dari 'keringat' politik. Sesungguhnya, ada sandera kepentingan yang saling tarik-menarik terhadap basis birokrasi ini. Populasinya tentu cukup menggiurkan. Dalam artian, kekuatan birokrasi cukup diperhitungkan. Tapi di sisi lain, ada ketidak percayaan terhadap mekanisme pengisian jabatan yang terus dituding melompati fase analisis jabatan. Artinya, selalu ada persepsi miring yang menimbulkan kesimpulan negatif. Bahwa selama ini, pola pengisian jabatan tak sepenuhnya profesional. Alih-alih memaksa ASN untuk profesional, toh urusan jabatan saja diterapkan secara tidak profesional. Dapat dibayangkan, ketika sebuah

Akar dan Ekor Radikalisme

Mencengangkan. Laporan Majalah Tempo Edisi 5-11 September 2016 mengungkap hasil survey Wahid Foundation yang bekerjasama dengan Lembaga Survey Indonesia (LSI). Survey dilakukan terhadap 1.520 responden pada 30 Maret - 9 April 2016 lalu. Dari aspek metode, dilakukan melalui proses tatap muka. Ambang kesalahan survey 2,6 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.  Dalam proses jajak pendapat itu, menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar responden tidak bersedia melakukan tindakan radikal. Namun ada satu gejala mengkhawatirkan. Yakni sebanyak 0,4 persen responden pernah melakukan tindakan radikal. Selain itu, sebanyak 7,7 persen menyatakan  bersedia ikut dalam kegiatan radikal. Semisal sweeping, berdemonstrasi menentang kelompok yang menodai Islam, dan menyerang rumah ibadah agama lain.  Artinya, jika dikonversi dengan jumlah penduduk, ada sekitar 11 juta orang di Indonesia yang bersedia ikut tindakan radikal. Sementara 600 ribu (0,4 persen) di antaranya pernah melakukan tinda

TV-mu, Kiblatmu

Pertanyaan sederhana yang hingga kini masih relevan diperdengarkan; masihkah Televisi berfungsi manfaat? Ataukah nilai madharatnya telah melambung jauh dari apa yang masih terpikirkan?  Secara teoritis, televisi merupakan medium informasi yang menggerakan dua alat indera manusia dalam satu sumber yang sama. Ketika mata menyorot televisi, telinga pun tak memerlukan durasi berjangka waktu untuk memahami pesan yang terdengar.  Tapi itu tak cukup. Sebab di balik layar teknologi canggih itu, tersimpan beragam sajian yang bukan hanya memerlukan analisa mendalam. Tapi juga membutuhkan daya gugat yang tegas. Sebab hampir pasti, otak manusia nyaris bernasib sama dengan sampah ketika seluruh hasil produksi tayangan Televisi telah merasuk ke dalam ingatan.    Anggaplah ini sebagai Ideologi yang sedang merambat di balik layar. Maka, jangan menduga, masyarakat kita hanya memiliki etos kerja menonton dengan durasi panjang. Sebab setelah itu, hasil konstruksi tayangan televisi akan menje

Diplomasi Kematian

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama, Ibrahim berkata: "Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Qs. As-Shaffat: 102) Firman Allah di atas menyiratkan tentang kisah Nabi Ibrahim As bersama puteranya, Ismail As. Tak tanggung-tanggung, Ibrahim mendapat wahyu agar putera tersayangnya itu disembelih. Bukan oleh orang lain, tapi dirinya sendiri.  Naluri seorang ayah tentu tak terbendung. Tak cukup jika sebatas meneteskan air mata. Saat itu, Ibrahim sedang berjuang menghadapi tekanan batin. Ia dihadapkan pada pilihan; patuh kepada Wahyu atau bertahan atas nama kasih sayang terhadap seorang anak. Demikian halnya dengan Ismail As. Ia begitu lugas menjawab dengan kalimat persetujuan, tanda kerelaan menjalani petunjuk Ila

Pesan Haji, Pesan Politik

Ibadah Haji, bagi umat Islam merupakan ritual kolosal yang berlangsung setiap  tahun. Kepadatan Jamaah hingga daftar tunggu menandakan betapa rukun Islam  yang kelima ini sangat didambakan oleh siapapun.  Namun jangan lupa, di balik kesucian serta janji surga bagi yang berhaji, pesan  morilnya tentu jauh lebih penting. Sebaliknya, bagi yang mengabaikan hal itu,  dapat dipastikan hanya akan mendapatkan derajat terhina di mata Tuhan. Bukan  lagi haji Mabrur.  Haji, khususnya di Indonesia, telah tampak bukan sebatas ritual belaka. Sebab  setelah perjalanan suci itu, status sosial pun drastis berubah, bergeser ke posisi  yang serba terhormat di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, sejatinya pesan  Haji dapat mengalami artikulasi yang tak bertepi. Dalam artian, mampu menjadi  bagian dari akhlak berbangsa. Termasuk di dalamnya akhlak berpolitik. Setidaknya kita dapat merujuk kepada peringatan Tuhan terhadap larangan dalam berhaji. Pertama, Rafats. Oleh Atha' bin Ali Rabah

Imam Lapeo; Teks Peradaban Hulu Hilir

Rasanya telah hilang beribu lembar narasi peradaban di Tanah Mandar, jika tak mencantumkan nama Ulama Legendaris, KH. Muhammad Thahir Imam Lapeo. Nyaris saja kita akan melipat lembaran narasi itu sembari berkesimpulan; Apa artinya bicara Mandar jika sedikitpun tak mafhum dengan Imam Lapeo?  Pada jarak terdekat, di bilangan waktu masa kini, boleh jadi orang di luar sana akan terus berdecak kagum dengan sosok Imam Lapeo. Baik tentang karamahnya, kedalaman ilmunya, keteguhan perjuangannya, konsep kebangsaannya, hingga doanya yang mustajab, mampu membelah langit.  Sementara kita tanpa sadar tengah berada dalam pusaran yang biasa-biasa saja. Jadilah kita sebatas pengagum sejarah Mandar, sejarah Imam Lapeo. Tanpa disertai kesanggupan menangkap anasir keberkahan dari pancaran cahaya kewalian beliau.  Bukankah ini yang disebut dengan kekeringan makna sejarah? Bukankah ini yang dimaksud dengan keluar dari ruh pembacaan sejarah? Ataukah kita memang masih gandrung dengan sejarah yang