Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2010

Masihkah Fatwa MUI Didengarkan?

Mejelis Ulama Indonesia (MUI) tengah menjadi perbicangan publik dewasa ini. Ia bagai artis yang sedang sibuk jumpa pers di berbagai media massa, sesaat setelah launching albumnya. Dan MUI memang baru saja selesai melakukan launching atas fatwa yang menghentak kesadaran publik di negeri ini. Setidaknya, ketika dikaitkan dengan dua persoalan kepastian hukum (agama), yakni status Kopi Luwak dan Kontroversi Tayangan Infotainment. Kopi luwak menjadi sorotan publik karena dua hal: Pertama, dunia saat ini sedang meliriknya sebagai potensi besar untuk dijadikan sebagai lahan bisnis kelas kakap. Dapat dibayangkan, ketika usaha kopi luwak menembus pasar internasional, tentu akan meraup omzet yang tak sedikit. Ditambah lagi karena telah menjadi bagian dari perbincangan para pemimpin dunia, tak terkecuali Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono. Kedua, kehadirannya menyulut kontroversi, karena ternyata kopi luwak yang sebelumnya merupakan kotoran hewan, ternyata telah memiliki lisensi yuridis-teolo

Nasehat Politik Fathimah Binti Muhammad SAW

Sayup-sayup terdengar rintihan tangisan di malam hari dari balik hijab. Kedua Cucu panutan agung sepanjang zaman Rasulullah SAW, yaitu Hasan dan Husain, sontak terbangun menelusuri dari mana muara rintihan yang makin lama makin terisak-isak. Tak disangka, ibu dari kedua putera kecil itulah yang ternyata sedang menengadahkan kedua tangannya, seraya bersenandung doa, menyebut satu persatu nama kaum muslimin, mengurai setiap rintihan hidup umat Islam kala itu. Dialah Fathimah binti Muhammad SAW, Sang puteri yang digelari Sayyidati Nisa al Alamin , penghulu kaum perempuan semesta alam. Hasan dan Husain kemudian menanti Ibunya hingga menyelesaikan shalatnya. Kedua anak tersebut bertanya pada Ibunya tentang alasan mengapa dalam setiap doanya selalu saja terbentang deretan nama orang-orang di sekelilingnya, namun jarang mendoakan dirinya. Dengan lugas, Fathimah menjawab: “Yaa Bunayya, al-Jar Qabla al-Dar” (Wahai anakku, Dahulukan tetangga sebelum diri sendiri). Pernyataan singkat di atas kem