Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Generasi Tunduk

Apa yang anda lakukan ketika sedang berada dalam sebuah majelis atau forum, lalu suara handphone tanda panggilan masuk berbunyi? Pilihannya hanya dua, menjawab atau menolak panggilan telepon. Tema ini menjadi serius di saat beberapa pegiat agama mulai menyeretnya dalam perbincangan khas fiqh. Apa hukumnya menerima panggilan telepon saat kita berada dalam sebuah majelis? Sejujurnya, saya termasuk bagian dari kelompok yang kerap terusik dengan nada dering yang berbunyi di setiap forum pertemuan. Apalagi jika penggunanya malah menjawab disertai suara yang begitu mengganggu konsentrasi forum. Sebelum masuk dalam medan perdebatan fiqh, ada baiknya membincang hal ini dalam kerangka etika sosial. Jadi bukan dalam kotak ekstrim antara dosa dan pahala. Apalagi surga dan neraka. Terlebih bukan urusan sesat dan menyesatkan. Ada yang harus dipetakan dalam ruang sosial kita. Antara kepentingan personal dengan kepentingan komunal. Dalam kepentingan personal, semua orang memiliki ke

Ulama Jangan Berani Kandang!

Catatan dari Forum Silaturahmi Ulama se-Sulawesi Barat MAMUJU--Selalu saja ada hal unik yang menyeruak di saat sekumpulan alim Ulama bertemu. Perbincangannya kerap melebar kemana-mana. Kendati muaranya sama; demi kemaslahatan umat. Tak terkecuali ketika mencoba membedah ruang dalam kehadiran Ulama, khususnya organisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Sulawesi Barat. Pertanyaannya sederhana, apakah saat ini Ulama di Sulbar dapat dinyatakan berdaya? Ketua Umum MUI Sulawesi Barat, KH. Nur Husain mengatakan, pada dasarnya ulama di Sulbar punya banyak ruang untuk berdaya. "Masalahnya, tantangan kita sekarang ini adalah mendorong agar Ulama ini tidak hanya berani kandang. Tidak boleh kita hanya berani di Pambusuang, berani di Baruga, atau di mana saja. Intinya ulama tidak boleh berani kandang," ujar Kiai kharismatik ini saat berbicara di hadapan forum silaturahmi Ulama se-Sulbar di Hotel Pantai Indah, Mamuju, Jumat 18 Maret. Sikap ini tentu punya alasan, dikarenak

Mengapa Agama Tak Direncanakan?

Sungguh meriah gelaran Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Provinsi Sulawesi Barat Senin (11/4) lalu. Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo hadir membuka. Sementara Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin didaulat menutup di Sore hari.   Namun kemeriahan itu menyisakan pertanyaan mendalam bagi kita (baca: bagi penganut agama-agama). Mengapa? Sebab dalam faktanya, forum musrenbang telah nyata dan terbukti lalai terhadap aspek primer kehidupan beragama di Sulawesi Barat. Mari kita meneropong 9 isu strategis yang menjadi acuan penyusunan program pembangunan lebih lanjut. Yaitu: (1). Layanan dan aksebilitas pada pendidikan, (2). Layanan dan aksebilitas kesehatan ibu dan anak, (3). cakupan kualitas air baku, sanitasi dan air bersih, (4). konektivitas infrastruktur wilayah dan pembangunan wilayah pinggiran, (5). pemberdayaan masyarakat miskin, (6). kualitas dan keunggulan SDM dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), (7). Ketahanan Pangan dan Komunitas unggula

Agama Trending Topik

Agama terus mengalami reduksi pemaknaan. Dapat dibayangkan, ketika penonjolan wilayah normativitas makin menguat, sementara kesadaran subtansi justeru semakin tersingkirkan. Padahal keduanya harus berdiri sepadan di atas panggung kehidupan. Corak beragama manusia modern dewasa ini juga bergerak ke alam digitalisasi. Penggunaan referensi atas kepatuhan tak lagi bersumber dari otoritas muktabarah. Sebaliknya, malah bergeser ke belahan dunia maya. Jadilah kita sebagai umat beragama di atas dalil yang serba terpenggal. Apa yang kemudian bakal menjadi masalah susulan? Ialah, pola maupun mekanisme menarik kesadaran dengan cara yang benar lagi tepat. Ketika agama menegaskan pentingnya berpijak pada kebenaran hakiki (baca; tiada tuhan selain Allah), dunia maya justeru menggeser kebenaran agar berdiri di barisan para pemburu rating. Akibatnya, seluruh kesadaran kita tergulung habis oleh kekuatiran untuk tak lagi berada di barisan isu terdepan. Karena itu, jangan heran ket

Doa Sayyidah Fathimah

Sayup-sayup terdengar rintihan tangisan di malam hari dari balik hijab. Kedua Cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husain, sontak terbangun menyusuri muara rintihan yang kian lama kian terisak. Tak disangka, ibu dari kedua putera kecil itu ternyata sedang menengadahkan kedua tangan, bersenandung doa, menyebut satu-persatu nama kaum muslimin, mengurai setiap rintihan hidup umat Islam kala itu. Dialah Fathimah binti Muhammad SAW, Sayyidati Nisa'il Alamin , penghulu kaum perempuan semesta alam. Dalam berbagai riwayat, Fathimah az-Zahra disebut sebagai perempuan yang paling dekat dengan Rasulullah. Dia pulalah yang mendapatkan sejumlah pesan bijak dari Rasulullah. Dialah perempuan yang dinikahkan dengan mahar al-Qur’an yang dihafalkan oleh Ali bin Abi Thalib, yang kehormatannya setara dengan kehormatan Rasulullah. Dialah perempuan yang disabdakan: “Barangsiapa yang menyakiti Fathimah, berarti dia telah menyakiti aku”. Hasan dan Husain kemudian menanti Ibunya hingga usa

Keringat, Kezaliman dan Kemanusiaan

Apakah yang mengikat interaksi sosial manusia hingga pantas dikatakan bermartabat dan diberkati? Adalah keseimbangan yang diapit oleh dua kutub; hak dan kewajiban. Jika hak dipenuhi dan kewajiban dilalaikan, saat itulah terjadi ketimpangan. Sebaliknya, jika kewajiban ditunaikan sementara hak diabaikan, itu namanya kezaliman. Dalam skala mikro, retaknya rumah tangga disebabkan adanya kewajiban dan hak yang saling berhadapan pada porsinya yang tak sepadan. Suami akan murka jika haknya disepelekan. Pun dengan Isteri bakal terluka jika haknya dipinggirkan. Sebuah perusahaan tak layak disebut tajir jika kesejahteraan hanya dinikmati para pemiliknya. Sebab anda atau siapa pun bakal berkesimpulan bahwa keringat karyawan mesti dibayar tanpa mengenal kata tunda. Bagi anda yang menautkan kehidupan di lingkar birokrasi, masalah hak dan kewajiban boleh jadi berlangsung secara tak adil, bahkan itu sudah biasa. Mereka yang memeras keringat menuntaskan kewajibannya tak mendapat