Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Susu Formula = Pembunuhan Berencana

Kunjungan Kerja Pansus DPRD Sulbar terkait Ranperda Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif punya cerita sisi lain. Pasalnya, kedatangan dengan maksud ‘berguru’ ke provinsi kakak tertua, Sulawesi Selatan justeru berbuah pengayaan mendalam terkait pentingnya kepedulian semua pihak terhadap ASI. Bukan hanya dalam timbangan yuridis belaka. Betapa tidak, ihwal terkait ASI rupanya juga telah masuk dalam daftar musuh besar konspirasi bisnis kelas kakap. Sebab diakui, dengan fokusnya ibu menyusui anaknya secara eksklusif bakal mampu menurunkan omzet dari usaha produksi susu formula. Kepala Bidang Bina kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sulsel, dr. Andi Mappatoba membeberkan, bisnis susu formula sesungguhnya sangat mengerikan. Sebab hanya mengejar keuntungan demi keuntungan. Sementara pertimbangan kemanusiaan, justeru dinihilkan. “Kalau ada Ibu yang lebih memilih susu formula dari pada memberikan ASI eksklusif kepada bayinya, itu artinya si Ibu telah melakukan pembunuhan secara berencana,”

ASI; Pintu Masuk Penguatan Kualitas Anak Bangsa

Air Susu Ibu (ASI) tak sekedar kewajiban seorang ibu menyusui bayinya. Namun juga merupakan pintu masuk menentukan masa depan anak bangsa. Inilah entry point dari pertemuan sejumlah anggota DPRD Sulawesi Barat dengan pihak Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, Kamis 22 Oktober 2015. Bahkan, agenda "membumikan" ASI ini bakal memiliki payung hukum dalam bentuk peraturan daerah (Perda) Pemberian ASI Eksklusif bagi anak. Anggota Pansus dari PKS, Abdul Latif Abbas mengemukakan, ASI merupakan hal yabg acapkali dianggap sepele. Sehingga memerlukan perhatian khusus serta dukungan penuh dari semua pihak. "Tujuan utamanya memang kita ingin agar ASI ini benar-benar diseriusi. Agar ke depan kualitas hidup itu anak-anak bangsa dapat benar-benar berkembang secara cerdas dan sehat," kata Abdul Latif yang juga ketua Badan Legislasi DPRD Sulbar. Sayangnya, ikhtiar ini bukan berarti tak menuai kendala. Gempuran kapitalisme serta takluknya kaum perempuan pada dunia fashion turut