Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Menjaga Ulama, Mencintai NKRI

Siang ini, saat kota Makassar sedang diguyur hujan lebat, saya berjumpa dengan Dr. Firdaus Muhammad. Penulis buku 'Anregurutta, Literasi Ulama Sulselbar' .   Dalam bincang singkat itu, Pak Firdaus, begitu saya menyapa beliau, banyak menjelaskan alasan di balik penulisan buku terbarunya itu. Batinnya terketuk untuk ikut menjadi bagian sejarah pewarisan ulama lintas generasi. Khususnya di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat.   Jika dirunut ke muara jejaring ulama, ditemukan fakta bahwa tak ada hal mendasar yang dapat menjadi alasan untuk berfirqah-firqah di era kekinian. Bahkan dengan alasan beda aliran sekalipun.   Jikapun terdapat perbedaan, itu hanya pada garapan pola mengekspresikan ajaran semata. Sehingga titik temu dari setiap perbedaan pandangan para ulama jauh lebih banyak dari pada alasan pembeda satu sama lain. Lalu mengapa dewasa ini kita terlampau mudah menyemaikan benih pembeda yang kerap berujung pada alasan mematangkan kebencian?   Sebab kita t

Miskin Makna

Roda kemajuan peradaban terus mengantar para pemujanya pada kekayaan khazanah. Histori yang otentik, kebudayaan padat  filosofi, dan pengetahuan kontekstual sebagai tanda besarnya.   Di sini, kita menemukan kekayaan makna yang sungguh luar biasa. Tak ada yang berjalan dengan perspektif seadanya. Sebab di setiap jengkal gerak selalu tertuang pesan-pesan kearifan.   Kekayaan terhadap makna berdampak sehat bagi kemajuan sebuah wilayah. Pun dengan kemajuan sebuah rezim. Sebab di dalamnya kita mampu saling berbagi kekayaan khazanah antara satu dengan lainnya. Tak ada debat kusir. Apalagi debat yang ujungnya hanya menyisakan kekesalan.   Namun harapan itu bakal menjadi utopis dan terkesan sensasional saja, jika tak punya kecakapan membuka tabir kekerdilan. Yang ada hanyalah serupa wujud kehebatan di zona masing-masing, di kandang kita masing-masing.   Manusia acapkali lupa dengan roda perubahan zaman. Ia tak tahu bahwa gerak perubahan itu sedemikian cepat. Sementara ia

Cerita Kekuasaan dan Kekuasaan Bercerita

Tak sedikit energi terkuras di saat publik digiring dalam cerita besar tentang kekuasaan. Untuk tema ini, tak ada pembagian kamar pengetahuan. Semua kelas sosial berhak membincang sedalam-dalamnya.  Cerita tentang kekuasaan telah lama memancarkan aroma beraneka rupa. Kadang manis, asam, asin dan akhirnya, ramai rasanya.  Dikatakan manis sebab kekuasaan mampu menggerakan kehidupan hingga ke level terendah. Sekaligus sanggup menyingkirkan segala bentuk selubung kejahatan hingga ke sudut manapun.  Tapi jangan lupa, kekuasaan juga dapat menjelma dalam cita rasa serba pahit. Itu ditemukan saat hasrat memakmurkan rakyat tersandung oleh beragam kepentingan saling silang. Tabrakan beruntun antar kepentingan kerap tak dapat dibendung. Hingga menyisakan puing-puing cerita kekecewaan. Dalam genggaman kuasa, tak dipungkiri hadirnya celah untuk melakukan apapun sekehendak seorang Penguasa, salah sekalipun. Di sinilah publik dengan mudah melabeli sebagai Pemimpin Otoriter. Bukan han

Mengukur Orang Waras

Baru saja saja usai menjawab 567 soal  psikologi yang disajikan oleh software Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), terbit pada tahun 1940.  MMPI dikembangkan pada tahun 1930 di Universitas Minnesota sebagai tes kepribadian yang komprehensif dan serius yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah kejiwaan. Tes MMPI adalah sebuah alat tes inventori yang berisi banyak pertanyaan dengan option “ya” dan “tidak”, tujuannya adalah untuk mengetahui kepribadian seseorang, terutama gangguan-gangguan psikologis yang ada di dalam diri seseorang, seperti gangguan anti sosial, gangguan seksual, gangguan depresi, kehohongan, dan sebagainya. Peserta lainnya juga mengerjakan hal serupa. Dari proses tersebut, hal menarik ketika membincang bagaimana psikologi gaya MMPI merancang kadar kejiwaan seseorang.  Dengan model ini, kecenderungan yang dihasilkan akan mempersepsi manusia sebagai barang rusak. Sehingga mesti dibengkeli sedemikian rupa. Bila perlu, hadirkan psikiater

Pesona Anwar Adnan Saleh

Pelantikan Pengurus Ikatan Jurnalis Sulawesi Barat (IJS) yang dilangsungkan Senin 4 Desember 2017 menyisakan catatan menarik. Mubazir jika dilewatkan begitu saja.  Bukan tentang siapa yang dilantik. Juga bukan terkait kemeriahan pelantikan. Melainkan sosok yang melantik. Pria yang kini tak lagi punya ikatan struktural di birokrasi. Dialah Anwar Adnan Saleh. Mantan Gubernur Sulawesi Barat. Secara datar, kehadirannya biasa saja. Toh, dia dipercaya sebagai Dewan Pembina Organisasi IJS.  Namun bagi saya, tidak hanya sampai disitu. Hadirnya politisi senior ini menegaskan pesonanya di hadapan awak media. Dia termasuk sosok media darling yang tak tergantikan.  Mengapa? AAS, demikian singkatan populis beliau, telah memiliki daya magnetis bagi media. Dari diamnya, itu telah memantik kerisauan di mata jurnalis tentang apa yang ia pikirkan. Terlebih lagi jika ia melontarkan pernyataan. Paling seru, kalau pernyataan itu menggelinding di ruang kontroversial.  Kenanglah sepuluh tahu

Kemarau Intelektual

Saya membaca tulisan Gus Dur tentang masa depan pemikiran, khususnya di Indonesia. Fase keresahan yang disebutnya sebagai kemarau Intelektual itu, kian terasa akhir-akhir ini. Membaca tatanan politik misalnya, hanya ramai dengan pembangunan perspektif citra dan dramaturgi. Dalam artian, dimensi stereotip terhadap politik merajai setiap ruang dialektika politik itu sendiri.  Padahal, politik seharusnya menjadi gerbang kehidupan untuk meraih tuntutan bersama; hadirnya masyarakat adil dan makmur. Politik juga meniscayakan tumbuh kembangnya sebuah tatanan peradaban. Sehingga tidak tepat jika bincang politik harus selalu kandas dalam kesimpulan menyakitkan. Bahwa khusus untuk tema yang satu ini, hanya tepat dibicarakan jika punya pengalaman muslihat di lapangan.  Belum lagi dalam ruang kebudayaan kita. Kecenderungannya kerap membuat jarak eksklusif terhadap realitas di luar. Aktivitas kebudayaan tak ubahnya terus memberi kutukan terhadap roda perkembangan zaman. Sementara kesuc

Rontoknya Nilai Sebuah Karya

Pergeseran era industri menuju era digital tak melulu mampu menggeser segala hal agar turut maju. Ada saja dimensi tertentu yang entah terlupa, atau tertolak oleh roda kecepatan zaman. Sebuah pertanyaan yang terasa mubazir dikemukakan; masih adakah informasi yang tak tergarap oleh teknologi digital hari Ini?  Sebab dengan bermodal smartphone, gugusan informasi itu telah hadir dalam genggaman orang per orang. Bagi Habermas, inilah fase kemabukan zaman, ditandai dengan ekstase informasi.  Belum cukup kita menikmati sendawa, muncul lagi deretan kabar lainnya. Hasilnya, kita mulai mual dengan aneka rupa sajian itu. Bahkan, tanpa rasa mual sekalipun, kita telah cukup merasakan obesitas, penghalau gerak bagi tubuh. Hadirnya media online juga tak ubahnya melengkapi rasa kenyang itu. Padahal, di lain sisi, gempuran kabar palsu juga tak kalah menyesakkan dada. Garis pembatas antara kebenaran dan berita bohong kian tipis, samar-samar dan akhirnya mewabah menjadi bumbu prahara ke

Jiwa Yang Jauh

Manusia Agung, pembawa berkah bagi semesta alam, Muhammad saw. Hadirnya sebagai senjata pamungkas bagi para pengingkar kebenaran. Pelipur lara bagi manusia penuh derita. Yang mukjizat ditangguhkan hingga hari pengadilan Ilahi; itulah syafaat Nabi Muhammad saw, rahmatan lil alamin.  Kini, beliau hadir dalam gegap gempita bulan maulid. Keberkahannya selalu dinanti oleh mereka yang percaya pada keajaiban, keberkahan dalam dimensi lintas batas. Bahwa Muhammad saw bukanlah hanya dia yang lahir di tahun gajah. Lalu wafat dan dikenang seadanya.  Muhammad saw adalah dimensi awal dan akhir, zahir dan batin. Beliau akan terus menanti setiap umat yang merapalkan nama dan mengabadikan ajarannya. Siapa yang menyebutkan namanya, sekali saja, ia akan disambut dengan anugerah kebaikan berlipat lapis. Tak peduli dari bibir mana nama Muhammad dilafadzkan; pengumpat, pendurhaka, pemaki, pezina, pengutuk, penipu. Seluruhnya luluh lantak, hancur lebur oleh kerinduan pada sosok agung itu. Kali

HASIL SURVEY DAYA TANGKAL MASYARAKAT SULAWESI BARAT TERHADAP RADIKALISME

Pertama, Potensi Radikalisme masyarakat di Sulawesi Barat tahun 2017 menunjukkan angka 54,5 persen pada rentang 0 sampai 100. Angka ini menunjukkan bahwa tingkat potensi radikalisme berada kappa kategori POTENSI SEDANG MENUJU KUAT. Radikalisme dapat dimaknai sebagai pandangan atau ideologi yang ditandai dengan meningkatnya komitmen pada kekerasan atau komitmen membolehkan cara dan strategi kekerasan dalam berbagai konflik.  Radikalisme mencakup dua elemen yang saling berhubungan erat; yaitu aksi (tingkah laku) dan sikap (tujuan), meski sifat ketergantungan antar keduanya tidak selalu ada. Karenanya, SIKAP RADIKAL TIDAK SELALU DAN TIDAK MESTI TERIMPLEMENTASI DENGAN AKSI KEKERASAN.  Satu hal yang mesti diperhatikan adalah bahwa radikalisme selalu berhubungan dengan berbagai pandangan yang mesti dibedakan secara analitis karena proses-proses radikalisme itu diarahkan oleh berbagai mekanisme yang berbeda, mengikuti beberapa pola yang berbeda, dan mesti dipahami dalam konteks Sosi

Korupsi dan Permakluman Kita

Merebaknya kabar korupsi di Sulawesi Barat membuat nalar publik tersentak. Bukan hanya di jazirah mandar, tapi segenap penjuru tanah air. Sulawesi Barat kini terlanjur dipersepsi sebagai daerah baru yang melengkapi anggapan miring terhadap konsep desentralisasi selama ini. Bahwa desentralisasi memberi sumbangsih riil terhadap praktik korupsi di daerah. Bukan hanya itu, ditetapkannya keempat pimpinan DPRD Sulawesi Barat sebagai tersangka oleh pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulselbar makin mengokohkan bahwa provinsi ini belum sepenuhnya terjamah dengan baik dan benar. Maka, proses hukum biarlah berlalu dengan prinsip praduga tak bersalah. Ini sekaligus hendaknya dipahami sebagai pesan berantai yang sepatutunya juga demikian, berlaku di benak publik. Korupsi memang diakui sebagai musuh bersama yang mesti diberantas dengan sekuat tenaga. Korupsi harus secara konsisten dilawan dalam bentuk massif. Bukan hanya menyorot lingkar korupsi di medan viralitas. Namun ada baiknya menelisik

Siapakah Penguasa Masa Kini?

Suatu ketika, Prof. Hamid Awaluddin menuturkan, masa depan dunia terus bergerak pada perubahan yang begitu cepat. Mulai dari kemajuan teknologi yang sangat cepat, meningkatnya kesadaran merawat lingkungan, kesadaran berdemokrasi lintas elemen, hingga kemunculan masyarakat menengah baru. Proses tersebut cukup memberi dampak sistemik terhadap pola dan strategi kekuasaan dalam merespon arus deras gelombang perubahan itu.  Di era masa kini, argumentasi normatif-mekanistik dalam pergumulan sosial tidaklah cukup, kendati hal itu bersumber dari otoritas yang terpercaya. Sebab di zaman ini, manusia tak cukup puas berkompromi dengan jawaban-jawaban serba kaku dan baku. Dibutuhkan story telling yang memadai, terukur dalam medan kekinian.  Perubahan itu tak pelak membuat mekanisme kehidupan pun kian terbuka. Ruang-ruang yang selama ini hanya dapat disentuh oleh kekuatan tertentu, kini dengan mudahnya dapat diperebutkan oleh semua pihak. Objek-objek yang sebelumnya dijalankan dalam suasan

Makrifat Literasi

Dalam sebuah diskusi ihwal Gerakan Literasi di Indonesia, ternyata belum menemukan titik paten untuk mengukur dimana fase literasi ini jamak disemaikan. Padahal, gelombang gerakan literasi kini benar-benar telah mewabah di berbagai pelosok Nusantara. Kehadirannya bak air yang sedang meluber tanpa mengenal sekat. Dalam diskusi itu, saya pun turut serta menjadi bagian yang ragu. Sebab hasil akhirnya hanya menawarkan sebuah hembusan khayali saja. Bahwa pada akhirnya, segala kebaikan takkan pernah berbakhir dengan sia-sia; akan dicatatkan dalam bait-bait puisi yang nantinya bakal menyejarah; hingga penantian akan balasan Tuhan di hari kemudian. Pertanyaannya, adakah yang lebih istimewa dari sekadar hayalan, yang menurut saya relatif melankolis itu? Pertanyaan itu kemudian menemukan jawabannya saat berjumpa dengan sajian Haidar Bagir saat menulis tentang Membaca-Menulis sebagai Gerak Hermeneutik. Ia menjelaskan seputar dunia baca-tulis yang tak sekedar bergerak di medan

Mikroskop

Dalam sebuah perjalanan, saya membaca Majalah yang isinya menyajikan satu cerita menarik; tentang mikroskop dan pesan kebenaran.  Bermula dari seorang pria yang sangat gemar mencicipi makanan berkelas internasional. Baginya, bukan sebuah hal yang luar biasa jika belum sempat menikmati makanan-makanan sejenis itu.  Sebagai pria yang sangat peduli pada higienitas makanan, suatu saat ia mencoba membawa sebuah mikroskop, lalu didekatkan pada makanan yang sangat disenanginya itu.  Betapa kecewanya ia. Sebab makanan yang sangat digemarinya selama ini, ternyata menyimpan banyak bakteri yang menjijikkan. Mikrospkop itu telah membawanya pada suasana batin yang berkecamuk; Apakah ia harus percaya pada hasil kerja mikroskop, ataukah tetap menjadi penggemar makanan internasional itu?  *** Kenyataan seperti di atas, bukan hal yang terlampau asing terjadi dalam kehidupan manusia. Demikianlah proses kebenaran itu dibuktikan. Kehadirannya kadang tak membuat suasana menjadi semakin

Terorisme; Subjektivasi dan Objektivasi Media

Representasi Terorisme di Indonesia dalam Pemberitaan Media Massa. Demikian judul Disertasi yang ditulis Indiwan Seto Wahyuwibowo di Universitas Indonesia tahun 2014 lalu. Ia menambah khazanah keilmuan di Negeri ini setelah para pendahulunya lebih awal mengulas kajian terorisme dalam lintasan multi perspektif.   Yang menarik dari karya tersebut, sebab telah membedakan tipikal praktek terorisme di luar negeri dengan corak khas Indonesia. Di luar negeri, katanya, pelaku teror cenderung menutup diri terhadap kemungkinsan deteksi pemberitaan media. Sementara di Indonesia, kecenderungannya justru terdapat peristiwa saling'membutuhkan' antara kepentingan terorisme dengan media, pada landasan persekutuan antara propaganda dan kekerasan.  Dengan mengutip Behm, pada tingkat ini, teroris menyusun dan memanfaatkan strategi media. Sementara di pihak lain, media menempatkan kepentingannya pada aktivitas kelompok teroris. Dalam relasi yang sedemikian itu, terorisme tidak boleh dipan

Nyawa Akbar, Amarah Ular

Siapa yang tak gusar? Saat mendengar seorang pria bernama Akbar telah diterkam seekor ular. Kabarnya tak hanya berputar dibenak warga Sulbar. Namun telah melebar keluar. Dunia pun mempermaklumkan bahwa Sulbar sebagai lumbung paling padat dihuni banyak ular. Kali ini kita pun kembali tersadar. Tentang kehidupan alam yang kian punah lagi pudar. Pun pada kehidupan ular yang terus terdampar. Karena ulah manusia yang kian sangar. Para aktivis lingkungan kini memicingkan mata, memadatkan pikiran-pikiran segar. Dari peristiwa yang terlampau terdengar sebagai kabar amarah alam lewat utusannya; seekor ular. Segenap gugusan perspektif hingga kritikan pedas kini terlempar kesana kemari. Tak tahu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap peritiwa memilukan ini. Kendati demikian, sebelum energi itu terkuras habis hanya karena ihwal saling tuding di antara banyak pihak, pendekatan esoterik agaknya penting sebagai garapan perspektif yang selama ini cenderung diabaikan.  Menurut Mulyadh