Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Surga, Neraka dan Sikap Hidup

Saat dua objek masa depan di atas dibincang, seringkali manusia terperangkap dalam debat yang tak bertepi. Sebagian menganggap itu hanya realitas simbolik, sebagian lainnya 'menebak' sebagai ruang kenikmatan di satu sisi, dan ruang kesengsaraan di sisi lain. Pada peristiwa lainnya, tema Surga dan Neraka kini telah dipermaklumkan sebagai isi cerita para pengkhutbah yang ketinggalan zaman. Bahwa bagi siapa pun yang kini masih senang bicara seputar surga dan neraka, itu dianggap sebagai corak beragama yang sedemikian tertinggal di tengah wacana keagamaan yang kian terpenggal. Dengan sangat konservatif, coretan ini juga sedang larut dalam bincang surga dan neraka. Kendati terus berusaha memandangnya dalam pantulan dimensi kekinian. Bahwa memahami realitas Surga dan Neraka sangat berbanding lurus dengan memahami akan arti kehadiran manusia, berikut dengan tanggung jawab yang diembannya. Sebab terlalu naif, jika gugusan doa dan pengharapan kita panjatkan dengan kedua tan

Elsa, Indiana dan Mr. Jones

Film Indiana Jones and The Last Crusade merupakan salah satu karya yang mengakhiri narasinya dengan simpulan tegas namun mendalam. Ketika Elsa, sang pemeran cantik itu mencoba merebut cawan, ia justeru terjebak dalam lubang besar di hamparan bumi yang retak. Cawan itu terjatuh ke jalam lubang yang berjarak sehasta. Saat Indiana hendak melompat untuk meraih cawan yang baru saja direbut Elsa, ayahnya, Mr. Jones justru menarik tangan si Indiana. Sementara Elsa, harus mengakhiri hidupnya dengan sangat tragis. Ia tenggelam dalam lumpur lapisan tanah yang panas dan mendidih. Mengapa cawan itu amat diperebutkan? Sebab, baik Indiana maupun Mr. Jones adalah dua sosok yang sangat patuh pada firman Tuhan. Sementara cawan disimbolkan sebagai objek kenikmatan dan keabadian. Dalam jaket tebal yang dikenakan, keduanya tak hanya menyimpan firman Tuhan itu dalam sakunya. Mereka bahkan sangat hapal dengan seluruh pesan Ilahi. Nah, di sinilah kehebatan film itu. Benak pemirsa dimainkan pada

Mudik, Ekspresi Kerinduan Lahir Bathin

Mudik lebaran setiap tahun kini telah menjelma sebagai tradisi yang bergerak massif. Khususnya dari mereka yang hidup di kota-kota besar. Bahkan dari situs   gaikindo.or.id   menyebutkan, untuk tahun ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi jumlah penumpang mencapai 17.698.484 orang. Angka itu naik 1,69 persen dari tahun lalu (17.404.575 orang). Jumlah mobil pribadi naik 4,5 persen dari tahun lalu, dari 2.371.358 kendaraan menjadi 2.478.069 kendaraan. Sepeda motor naik 50 persen dari 2015 (3.759.122 motor) menjadi 5.638.683 motor.  Itu pun tampaknya belum memadai. Kemenhub masih harus menyiapkan angkutan 46.478 bus, 195 kapal penyeberangan, 447 lokomotif, 1.694 kereta, 334 kereta api dan 529 pesawat. Mengapa peristiwa mudik sedemikian kental hingga nyaris tak peduli dengan hambatan di jalan, kepadatan hingga resiko yang mengancam jiwa? Sebab di sana ada kerinduan yang membuncah. Hasrat pulang kampung itu telah menghilangkan seluruh ketakutan berkendara lalu mengerak

Memahami Plus Minus Metode Tafsir

Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam, ibarat samudera yang keajaiban dan keunikannya tak pernah sirna di telan masa. Hingga pada perkembangannya, lahirlah bermacam-macam tafsir dengan metode yang beraneka ragam. Para ulama telah menukilkan ribuan karya di bidang tafsir. Serta menjelaskan metode dijadikan sebagai perangkatnya. Beberapa metode yang hingga kini akrab digunakan para ahli tafsir di antaranya: Pertama, Metode Tahliliy. Pola ini menafsirkan al-Qur’an berbasarkan susunan ayat dan surah yang terdapat dalam mushaf. Seorang mufassir, dengan menggunakan metode ini akan menganalisis setiap kosa kata atau lafal dari aspek bahasa dan makna. Dari aspek bahasa meliputi keindahan susunan kalimat i'jaz, badi’, ma’ani, bayan, haqiqat, majaz, kinayah, dan isti’arah. Sedangkan dari aspek makna meliputi sasaran yang dituju oleh ayat, hukum, aqidah, moral, perintah, larangan, relevansi ayat sebelum dan sesudahnya, hikmah dan lain sebagainya. Pola Tahlily merupakan metode ta

Puasa dan Penemuan Gaya Komunikasi

Puasa sesungguhnya punya bermacam-macam percikan cahaya. Tergantung kepada siapa yang sanggup menangkap isyarat ilahi lewat tirakat puasa, zikir di malam hari dan menjaga diri di siang hari. Menjalani hari demi hari di bulan Ramadhan, tidaklah cukup jika hanya berlomba merebut pahala, melepas dosa. Para Ulama sufi, sering menyebut praktik ibadah seperti ini adalah praktik pedagang. Sebab yang lebih penting adalah kesanggupan merakit sayap-sayap rohani untuk terbang ke hadirat Tuhan, lalu pulang menggenggam fitrah. Puasa diyakini sebagai ibadah paling radikal tapi tidak kolosal dalam membentuk karakter setiap orang. Betapa tidak, puasa merupakan medium paling rahasia antara Hamba dengan Allah. Setiap manusia boleh saja mengaku berpuasa, sembari mencari tempat aman untuk melepas dahaga. Karena itu Allah berfirman dalam Hadis Qudsi: Puasa untuk-KU. Dan Aku sendiri yang akan memberi ganjaran. Karena puasa merupakan satu bentuk ibadah yang sangat intim di sisi Tuhan, wajar jika

Media di Mata Agama, dan Sebaliknya

Pada sebagian pihak, media dipersepsi lahir dari rahim peradaban Yahudi. Ia lebih dekat kepada mainstream propaganda zionisme dari pada kepentingan menuangkan informasi yang sebenarnya.  Anggapan itu terus menguat ketika satu rumusan ilmiah dari Mazhab Frankfurt menemukan bahwa kesaktian media hingga detik ini hanya mampu menampilkan realitas kedua (second reality), sebab telah melalui fase konstruksi serta produksi. Media juga dipandang sebagai arus kekuatan pemodal dan penguasa dalam menggerakkan kebohongan yang berulang-ulang hingga menjadi kebenaran yang ditelan mentah-mentah atas nama kepentingan keduanya. Jika lebih ekstrim, media dianggap tak memiliki pertalian yang jelas dengan Agama (Islam). Wajar, dalam beberapa event bercita rasa agama, media dituding berkontribusi serba negatif, minimal dianggap tak penting menyimak konstruksi/ mekanisme berpikir media terhadap Agama. Lebih jauh, media terus disudutkan ke alam terkutuk; tak wajar jika media bergumul dengan agama.

Pemimpin dan Komitmen Toleransi

Wajah Kerukunan umat beragama di Indonesia dipandang sebagai ornamen peradaban umat manusia di muka bumi. Dengan jumlah penduduk muslim terbesar dunia, bumi Nusantara ini tercitra baik di mata dunia.  Ancaman teror hingga tindakan bunuh diri telah dilakukan oleh kelompok gerakan radikal atas nama agama. Belum lagi dengan percobaan makar sejumlah oknum dengan ragam alasan. Semua terbukti tumpul mematahkan keutuhan NKRI. Tapi itu, belum cukup. Sebab di belahan realitas lainnya, praktik penghasutan itu tak pernah berhenti, jeda sedikitpun. Sebabnya bermacam-macam. Ada yang berangkat dari Ideologi Khalifah sembari menganggap kepemimpinan saat ini setara dengan Thagut. Ada pula yang mencoba menyeret cara berpikir kebangsaan yang hendak melakukan pemangkasan 'ruang agama' di ranah publik. Belum lagi dengan gempuran teknologi informasi yang acapkali menuangkan konten sesat dan menyesatkan terhadap saudara seiman. Ironisnya, daya dobrak teknologi informasi belum dibarengi

Menyoal Pembangunan Rumah Ibadah

Jika ditanya, seputar pembangunan rumah ibadah, nyaris dipastikan bakal memunculkan aneka ragam tema yang layak didiskusikan.  Mengapa? Sebab rumah ibadah setidaknya memiliki dua dimensi; teologis dan sosiologis. Dalam timbangan teologis, para penganut agama telah terpatri dalam batin bahwa ikhtiar membangun rumah ibadah adalah bagian tak terpisahkan dari sikap ketundukan kepada Tuhan yang berbalas janji surga, kelak. Dalam Islam misalnya, Rasulullah saw telah bersabda: barang siapa yang membangun masjid, maka Allah akan menyiapkan singgasana di surga. Selain janji surga, pembangunan rumah ibadah juga bergandengan dengan tugas men-syiar-kan agama di muka bumi. Bahkan telah menjadi parameter suksesnya sebuah agenda syiar.  Demikianlah sisi kemuliaan yang bakal diraih oleh siapapun yang mencatatkan namanya dalam panggung sejarah pembangunan rumah Ibadah. Pesatnya pembangunan rumah ibadah pada suatu daerah idealnya tidak hanya menimbang aspek semangat membangun saja. Sebab

MTQ, Pertandingan dan Perbandingan

Secara historis, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ)  telah ada di Indonesia sejak tahun 1940-an sejak berdirinya Jami'iyyatul Qurro wal Huffadz yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia.  Sejak tahun 1968, saat Menteri Agama dijabat K.H. Muhammad Dahlan (salah seorang ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) MTQ dilembagakan secara nasional. MTQ pertama diselenggarakan di Makassar pada bulan Ramadhan tahun 1968. Kala itu hanya melembagakan tilawah dewasa saja dan melahirkan Qari Ahmad Syahid dari jawa Barat dan Muhammadong dari Sulawesi Selatan.  Ajang MTQ selanjutnya menjadi agenda nasional hingga ke daerah. Di Sulawesi Barat sendiri, tahun ini dipusatkan di Kabupaten Mamasa. Pada dasarnya, setiap momentum MTQ selalu memiliki makna penting, khususnya dalam hal adu kehebatan generasi muda muslim. Prosesnya juga tidak mudah. Sebab harus melalui beberapa jenjang musabaqah. Mulai dari kecamatan, kabupaten, provinsi hingga ke level nasional. Itu artinya, MTQ

Pesan Rohani Isra Mi'raj

Mimbar Masjid acap kali menyajikan gambaran peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw sebagai ihwal keajaiban hikayat semata. Sehingga lingkar kesimpulan umat Islam hanya disesaki oleh jawaban atas pertanyaan ‘bagaimana’, bukan ‘mengapa’.  Padahal, peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad saw merupakan etape penting dalam rangkaian perjuangan berat beliau melanjutkan transformasi moral, sosial, dan spiritual umat manusia. Adalah Wahyuddin Halim, dosen saya, menukilkan pesan transformatif Isra Mi’raj tahun 2008 silam. Katanya, ada tiga pesan penting yang seharusnya tak boleh diabaikan setiap kali mengenang peristiwa itu. Dengan maksud merevitalisasi dan mereguk hikmahnya bagi kehidupan kita. Pertama, sebelum Nabi melakukan Isra’ dan Mi’raj, beliau mengalami tiga ujian terberat sejak beliau mendapat mandat kenabian.  Yaitu, meninggalnya dua penolong dan pelindung utama beliau, istrinya, Khadijah al Kubra, dan pamannya, Abu Thalib. Kala itu disebut tahun duka cita (amul huzn). Dit

Nyali Para Pendahulu

Masa lalu tak selamanya harus berlalu. Jika menengok ke belakang, pola hidup para pendahulu memiliki aneka rupa keajaiban. Prediksinya tajam terhadap potret masa depan. Kehidupan mereka diwarnai dengan keputusan bercita rasa insting walau kerap dihadapkan pada kondisi alam yang serba genting. Dengan menggunakan parameter kekinian untuk mengukur nyali para pendahulu, jelas nyaris tumpul. Sebab untuk memasukkan mereka dalam barisan buta aksara, pastilah berjumlah banyak. Lalu mengapa mereka justeru lebih mudah mendekati lingkar kebahagiaan, kesahajaan, dan keteduhan? Setidaknya ada dua pegangan hidup mereka. Yakni, keyakinan dan kezuhudan.  Oleh Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa keyakinan merupakan pengetahuan yang mantap tentang sesuatu. Disertai dengan tersingkirnya apa yang mengeruhkan pengetahuan itu. Dalam tingkatan keyakinan umat manusia, seringkali didahului dengan keraguan. Namun, sekali lagi, kata Pak Quraish, ketika sampai pada tahap yakin, keraguan yang tadinya a