Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

Majelis Ulama Indonesia

Hari ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus mengemasi diri, menjawab sejumlah masalah keumatan. Belum lagi dengan cibiran serta hantaman dari berbagai pihak agar dibekukan bahkan dibubarkan. Itu artinya, tantangan MUI tidaklah ringan. Salah satu alat timbang yang dapat digunakan, yakni dengan merujuk pada fatwa-fatwa yang di-ijtihad-kan selama ini. Kendati standar hukumnya hanya bersifat fatwa, bukan amar (perintah), namun penafian atas fatwa itu telah menunjukkan sikap 'menjauh' umat terhadap pandangan ulama. Fatwa tak lagi punya marwah. Bagi KH. Didin Hafiduddin, setidaknya ada tujuh poin penting yang menjadi tugas MUI ke depan. Pertama, MUI perlu meneguhkan jati diri sebagai 'organisasi ulama waratsatul anbiya' yang memiliki tanggung jawab besar mengawal perjalanan umat Islam dan bangsa Indonesia menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Kedua , ulama dan khususnya pengurus MUI harus memiliki ilmu pengetahuan keagamaan (at Tafaqquh fid

Literasi; Suara dari Pesantren

A pa yang hilang dari dunia pesantren? Adalah tradisi literasi. Untuk hal yang satu ini, agaknya kita membutuhkan penalaran reflektif sekaligus mengakuinya sebagai ‘permata yang hilang’. Di tengah kegamangan aktivitas literasi itu, pesantren telah ‘dibajak’ oleh kebijakan pemerintah yang melakukan gerakan pukul rata penerapan konsep pendidikan karakter di tiap-tiap lembaga pendidikan. Termasuk di pesantren. Apa ini tidak terbalik? Dari mana sejarahnya pesantren disuguhi kebijakan pendidikan karakter? Mengapa harus serba di-administratif-kan akhlak bangsa ini? Tidakkah model pendidikan ‘jurus’ pesantren mesti dicopy-paste sebagai kiblat pendidikan massal dan nasional? Dapat anda bayangkan hari ini, seluruh lembaga pendidikan bermerek negeri terus-menerus kecipratan anggaran. Tapi toh buktinya tidak semakin mencerdaskan anak bangsa. Setidaknya jika diukur dari garis linear antara kecakapan intelektual dengan kesantunan emosional. Sebaliknya, sekolah-sekolah negeri hari

Lonceng Kematian

Selain soal etape perjalanan spiritual (maqamat), tema seputar kematian tak luput dari sorotan utama para hukama, arif billah, maupun sufi. Perspektif yang terbangun dari tema ini jelas bukan lagi ditangkap sebatas misteri terpisahnya roh dan jasad. Melainkan telah terbang menjadi 'perdebatan' manis; kematian adalah cara berjumpa dengan Tuhan. Bukan itu saja, tema kematian seringkali dibenturkan dengan tema Shalat. Pertanyaannya sederhana namun perkasa; untuk mendekati makrifat, manakah yang mesti lebih awal diselami antara Shalat ataukah Kematian? Bagi kita yang masih awam memang akan selalu menangkapnya sebagai misteri yang sungguh menakutkan. Jika di antara sekelompok manusia diajak mengikuti arisan kematian, pastikanlah bahwa tak satupun bakal berkenan ikut sebagai peserta arisan. Marilah memerhatikan betapa gegap gempitanya manusia modern hari ini saat merayakan moment ulang tahun. Pesta pora dirayakan, ribuan handai taulan dihadirkan, dan d

Mengenal Tipologi Muballigh

Jika merujuk pada fenomena Muballigh, setidaknya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tipologi. Pertama, Muballigh yang menyampaikan dakwahnya dengan dominasi ayat Al Qur’an dan Hadis serta beberapa pandangan ulama. Tipe ini mewakili unsur Muballigh berlatar belakang dunia kepesantrenan dan alumni timur tengah, serta lekat dengan kefasihan berbahasa Arab. Kelebihan mereka ada pada penguasaan dasar-dasar pemahaman Agama Islam.  Namun kelemahannya, sistematika penjelasan terkadang monoton. Sehingga jamaah merasa jenuh menyimaknya. Kedua, Muballigh dengan beragam pandangan dan pendekatan sangat akademik. Tipe ini mewakili unsur yang cenderung kurang mapan pada basic keislaman, namun matang dalam persoalan metodologi dan kajian interdisipliner. Boleh jadi mereka bukan berasal dari basis dunia pesantren, namun obsesi yang kuat mengantar mereka menjadi bagian tak terpisahkan dengan masa depan agama Islam. Sisi kelebihan tipologi ini, tampak pada beragam pendekat

Kepemimpinan dan Semut

Ihwal kepemimpinan seringkali disoal. Apakah sebuah peristiwa immanen ataukah transenden? Atau keduanya?   Sebelum menjawabnya, sekilas kita masih teringat pada peristiwa 17 Februari 2016 lalu. Di Sulawesi Barat, Sebanyak 3 Bupati dan wakilnya telah diambil sumpah untuk periode 2016-2021. Rasa haru dan gembira turut menyelimuti prosesi pelantikan hari itu. Para simpatisan yang berjuang maupun sekadar menanti datangnya pemimpin tumpah ruah. Sesekali di antara mereka berdecak kagum menyaksikan pesona pemimpin, lengkap dengan lencana yang disematkan. Dalam tangkapan wacana Demokrasi, ini disebut dengan selebrasi Demokrasi. Sebuah ekspresi tak terbendung atas lahirnya pemimpin pilihan mayoritas rakyat. Tapi rupanya itu tak cukup. Sebab dalam iklim demokrasi dewasa ini, seringkali diapit oleh tiga faktor yang awalnya hanya pelengkap. Namun kini nyaris telah menjelma sebagai patronase demokrasi. Pertama, kata Effendi Ghozali di Mamuju, kemarin, trend konsumeris

Pakaian Sebagai Identitas Bathin

Jangan menduga bahwa mengenakan pakaian hanyalah serangkaian upaya manusia menutupi tubuhnya. Baik dari terpaan terik matahari, ataupun dari hujan yang membasahi.  Dunia fashion hari ini terus bergerak dalam ragam pandangan untuk menyoal sisi terdalam dari  pakaian itu sendiri. Mereka yang concern di bidang ini mengulasnya secara lebih kental. Tubuh tak cukup jika sekadar ditutupi dengan pakaian. Tapi juga melakukan salto tafsir. Bahwa yang tertutup pun juga bagian dari cara menonjolkan lekuk-lekuk tubuh. Jadilah dunia fashion sebagai panggung ekspresi tubuh yang tertutup sekaligus kentara. Studi komunikasi menyebutnya sebagai model penyampaian pesan. Saksikanlah apa yang terjadi pada mereka yang berprofesi sebagai Sales Promotion Girl (SPG). Terbukti cukup efektif 'menggoyang iman' pelanggan untuk membeli produk dagangannya. Tepat kata Malcolm Bernard. Katanya, pakaian adalah bentuk komunikasi non verbal. Sehingga, seluruh desain pakaian dewasa in

Harmoni Untuk Kemanusiaan

Hampir seluruh kajian pemikiran maupun filsafat masih terus bergumul di kisaran kemanusiaan. Tak sedikit di antaranya harus mengalami kesimpulan patah, diakibatkan ketidak sanggupannya mengungkap misteri kemanusiaan. Pun dengan apa yang sedang dan terus kita alami dewasa ini. Sisi kemanusiaan dalam bingkai bernusantara kian dibincang dengan ragam kalimat-kalimat penjelas. Sebutlah hari ini ketika dunia sedang dibuat linglung akibat ulah sekelompok orang yang hendak memaksakan hasrat ideologisnya. Lalu menjadikan sekian banyak manusia tak berdosa harus menjadi korban kebiadaban itu. Karena dalih_bukan dalil_ ingin menyeragamkan paham keagamaan, selainnya terdikotomi sebagai kelompok yang tak layak menghirup udara segar di alam syurga. Jelas ini sebuah ironi di tengah sandaran filosofi kebangsaan kita yang mengajarkan pentingnya membumikan pesan kemanusiaan yang adil dan beradab. Pandangan ini bukan hanya keliru. Tapi juga sedang mencabik-cabik warisan keb