Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Terorisme; Subjektivasi dan Objektivasi Media

Representasi Terorisme di Indonesia dalam Pemberitaan Media Massa. Demikian judul Disertasi yang ditulis Indiwan Seto Wahyuwibowo di Universitas Indonesia tahun 2014 lalu. Ia menambah khazanah keilmuan di Negeri ini setelah para pendahulunya lebih awal mengulas kajian terorisme dalam lintasan multi perspektif.   Yang menarik dari karya tersebut, sebab telah membedakan tipikal praktek terorisme di luar negeri dengan corak khas Indonesia. Di luar negeri, katanya, pelaku teror cenderung menutup diri terhadap kemungkinsan deteksi pemberitaan media. Sementara di Indonesia, kecenderungannya justru terdapat peristiwa saling'membutuhkan' antara kepentingan terorisme dengan media, pada landasan persekutuan antara propaganda dan kekerasan.  Dengan mengutip Behm, pada tingkat ini, teroris menyusun dan memanfaatkan strategi media. Sementara di pihak lain, media menempatkan kepentingannya pada aktivitas kelompok teroris. Dalam relasi yang sedemikian itu, terorisme tidak boleh dipan

Nyawa Akbar, Amarah Ular

Siapa yang tak gusar? Saat mendengar seorang pria bernama Akbar telah diterkam seekor ular. Kabarnya tak hanya berputar dibenak warga Sulbar. Namun telah melebar keluar. Dunia pun mempermaklumkan bahwa Sulbar sebagai lumbung paling padat dihuni banyak ular. Kali ini kita pun kembali tersadar. Tentang kehidupan alam yang kian punah lagi pudar. Pun pada kehidupan ular yang terus terdampar. Karena ulah manusia yang kian sangar. Para aktivis lingkungan kini memicingkan mata, memadatkan pikiran-pikiran segar. Dari peristiwa yang terlampau terdengar sebagai kabar amarah alam lewat utusannya; seekor ular. Segenap gugusan perspektif hingga kritikan pedas kini terlempar kesana kemari. Tak tahu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap peritiwa memilukan ini. Kendati demikian, sebelum energi itu terkuras habis hanya karena ihwal saling tuding di antara banyak pihak, pendekatan esoterik agaknya penting sebagai garapan perspektif yang selama ini cenderung diabaikan.  Menurut Mulyadh

Gagal Paham Membaca Kultur

Seriuskah kita merawat NKRI dalam bingkai kemajemukan? Pertanyaan ini menyeruak di tengah gencarnya gelaran diskusi seputar tema kebangsaan. Mulai dari institusi di level pusat meluber hingga ke berbagai daerah. Belum lagi dengan inisiasi sejumlah organisasi, turut menambah volume ruang-ruang diskusi tersebut.  Namun, ketika mencermati beberapa forum, terdapat kesan bahwa kita sesungguhnya belum benar-benar memahami konsep tersebut.   Hal serupa terlihat saat pihak Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan HAM Sulawesi Barat menggelar kegiatan serupa, Selasa, 4 April lalu. Dari sisi konsep pelaksanaan kegiatan, tampak berkeinginan untuk mengolaborasi antara kepentingan sosialisasi Undang-undang Kewarganegaraan dengan Wawawan Kebangsaan, khususnya yang terkait dengan tema Multikulturalisme.  Saya sebagai undangan yang turut hadir sebagai peserta, mencoba menangkap anasir itu. Namun, sayangnya dari tiga narasumber yang dihadirkan, yakni Pihak Kanwil Kemenkumham, Kanwil Kemenag dan

Apakah Metode Iqra Masih Relevan?

Bagi umat Islam, Pendidikan al-Quran merupakan konsekuensi logis terhadap keyakinan. Mengakui diri sebagai umat Islam tanpa mentradisikan al Quran dalam kehidupan, adalah kepalsuan. Sebab bagaimana mungkin seorang menyatakan yakin terhadap sebuah ajaran, sementara panduan memahami ajaran itu tak diselami lebih dalam.  Di tengah kesadaran akan hal itu, rangkaian pendidikan al Quran menemukan titik terangnya. Di saat para pegiat pendidikan sangat getol berjibaku menarik minat terhadap metode yang tepat digunakan sesuai dengan tuntutan zaman.  Dalam hitungan 20 tahun silam, kita mengenal metode Baghdadiyah atau metode Tarkibiyah (bersusun). Maksudnya, suatu metode yang tersusun secara berurutan dan merupakan sebuah proses ulang atau lebih kita kenal dengan sebutan metode alif, ba’, ta’. Metode ini adalah metode yang paling lama muncul dan metode yang pertama berkembang di Indonesia. Cara pembelajaran metode ini dalam bentuk Hafalan, Eja, Modul, dan Pemberian contoh yang absolut.

Le Roux, Penelope dan Politik Integritas

Situs BBC.com melansir berita terkait Menteri Dalam Negeri Prancis, Bruno Le Roux, yang mengundurkan diri karena mempekerjakan dua putrinya ketika masih remaja. Dalam konferensi pers, Selasa (21/03), di Paris, ibu kota Prancis, ia menyangkal telah berbuat salah. Namun menyebut masalah itu tetap merupakan tanggung jawabnya. Le Roux dituduh mempekerjakan kedua putrinya yang sedang terikat dalam kegiatan lain. Pengunduran dirinya ditempuh, menurut Le Roux, karena dia tidak ingin penyelidikan atas kontrak yang berkaitan dengan kedua putrinya tersebut 'mengganggu pekerjaan pemerintah'. Kedua putrinya mulai bekerja ketika berusia 15 dan 16 tahun untuk total 24 kontrak dengan bayaran sekitar 50.000 Euro atau setara Rp. 790 juta. Tuduhan atas Le Rouz ini terungkap dalam sebuah acara TV Quotidien, Senin (20/03), ketika seorang wartawan bertanya kepada politisi berusia 51 tahun ini tentang pekerjaan pada liburan musim panas yang diberikan kepada putri-putrinya antara tahun 2009

Kebahagiaan, Kesucian dan Keabadian

Pernahkah terlintas di benak kita tentang garis pembeda antara kebahagiaan dan kesenangan? Atau boleh jadi keduanya dilebur dalam tangkapan nalar yang sama dan sepadan? Kebahagiaan dan kesenangan memang seringkali mengalami proses salah ukur dalam dimensi nalar kita. Keduanya dengan mudah dibolak-balik. Bahwa, bahagia sama dengan senang, demikian pula sebaliknya.  Tahun lalu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Barat, KH. Nur Husain menyajikan tema kebahagiaan dalam dimensi yang cukup sederhana, menukik dan tepat di telinga umat. Sebagaimana lazimnya, seorang ulama tentu lebih akrab mengambil perspektif wahyu dalam menangkap setiap realitas, baik subjektif maupun objektif.  Ulama kelahiran 10 November 1945 itu memberi simpulan bahwa kebahagiaan seseorang ditandai dengan terlepasnya dari seluruh belenggu kehidupan, termasuk dosa kepada Tuhan. Makin jauh seseorang dari jeratan kesalahan dan dosa, medan kebahagiaan itu pun semakin mudah diraih.  Dalam perkembanga

Dialog dan Makna Perjumpaan 

Seorang filsuf Jerman, kelahiran Austria terkenal dengan filsafat dialognya. Dialah pria yang bernama Martin Buber. Ia lahir di Wina, dari sebuah keluarga Yahudi yang taat, namun berpisah dari tradisi Yahudi untuk mempelajari filsafat secara sekuler. Selain sebagai seorang filsuf, Buber juga dikenal sebagai teolog dan politikus. Ia memiliki darah Yahudi dan amat dipengaruhi oleh tradisi agama Yahudi di dalam pemikirannya. Dari pergulatan pemikirannya itu, ia membangunkan kesadaran manusia terhadap perilaku sehari-hari. Khususnya tentang tema dari makna perjumpaan sesungguhnya.  Pertanyaan paling menukik dari konsep Martin Buber adalah: Bagaimana mengetahui bahwa komunikasi kita benar-benar telah berhasil mengikat hubungan sesama manusia? Apakah dimensi komunikasi kita telah meletakkan perubahan sikap setelahnya, atau tidak sama sekali?  Dalam argumentasi yang terbalik, sejauh ini, betapa banyak kanal komunikasi yang dirancang bangun oleh manusia, namun tersungkur dalam pui

Riset Kerukunan

Gerakan intoleransi kini bukan lagi sebagai fenomena remang-remang. Penetrasinya merangsek ke sejumlah ruang sosial yang lebih terbuka. Bahkan tak jarang ditemukan sisi yang cenderung merespon agenda kebangsaan, kendati pada kesimpulan akhirnya menawarkan gagasan yang sangat kering dari semangat kebangsaan itu sendiri.  Gagasan merawat nasionalisme misalnya, seringkali diseret pada perspektif menggusur keragaman. Nasionalisme ditampilkan dalam wajah seragam dan serba tunggal. Di lain sisi, harapan umat menuntut agar agama mampu memberi jawaban sesederhana mungkin atas apapun yang sedang dihadapi. Sehingga wajar ketika muncul upaya penggalian serius terhadap esensi keberagamaan.  Inilah yang menjadi entri point dari pertemuan lintas agama yang dimotori Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Barat, Rabu 1 Maret 2017 lalu.  Dalam kesempatan itu, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kementrian Agama Sulbar, Muhammad Dinar Faisal menggariskan hakikat keberagamaan ada pada

Rindu Pada Gus Dur

Hamparan tanah Tebuireng Jombang telah memberi kesaksian bahwa ada sosok manusia sakti yang sedang beristirahat di alam kubur. Kepergiannya mewariskan cerita bercita rasa ramalan masa depan. Dialah KH. Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. Tujuh tahun silam, Ia berpulang diiringi gelar pamungkas lagi pantas dari Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Bapak Pluralisme. Dialah pria yang berhasil memikat hati Sinta Nuriyah, yang semasa pengembaraan intelektual antara Cairo dan Baghdad, surat-surat cintanya mampu membakar gelora jiwa seorang Gus Dur. Laiknya surat cinta antara Kahlil Gibran dan Salma Karami dalam Novel Sayap-sayap Patah. Dialah pria yang telah berani menumpahkan kekecewaanya atas kegagalan mengikuti ujian akhir pada pertengahan 1966 di Univesitas al Azhar, Cairo. Dan di tangan Nuriyah, lagi-lagi ia membakar api cinta dengan berkirim surat kepada Gus Dur: "Mengapa orang harus gagal dalam segala hal? Anda boleh gagal dalam studi, tapi paling tidak anda b

Lonceng Kematian Dunia Kampus

Seakan terbangun dari mimpi buruk, bangsa kita disadarkan oleh sebuah tema besar bernama Literasi. Sontak, sejumlah anak muda di negeri ini tampil mengambil peran antisipatif itu. Disadari, bangsa kita memang sedang dalam sengkarut masalah etos membaca yang terbilang sangat rendah. Urutannya berada di level bontot, kata orang Jawa. Data World's Most Literate Nations (2016) menunjukkan rapor minat baca di Indonesia berada pada rangking 60 dari 61 negara. Sebelumnya, pada tahun 2012, UNESCO merilis angka menyedihkan; Setiap 1000 orang di Indonesia, hanya 1 orang punya etos membaca yang baik.  Jika dibandingkan dengan Negara Malaysia, rata-rata penduduknya mampu mengkhatamkan 3 buah buku dalam setahun. Sementara di Jepang, penduduknya mampu menamatkan 5 sampai 10 buku dalam setahun.  Mari melacaknya dalam aktivitas yang lebih dekat. Dilihat dari jumlah, kehadiran perpustakaan cukup memadai. Di sekolah, perguruan tinggi, rumah ibadah dan kantor lainnya masing-masing me

Janji Kebangsaan

Gonjang-ganjing kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini cukup memprihatinkan. Energi para pemimpin habis digunakan untuk meredam dengan caranya masing-masing. Ironisnya, alih-alih mampu menciptakan suasana jeda saja, justeru memunculkan deretan masalah baru hingga berlanjut sebagai polemik tak berujung di kalangan elit.  Pada realitas yang terus berjalan itu, terdapat semacam pesimisme rakyat terhadap komitmen para pemimpin untuk menyelesaikan prahara yang sedang melanda. Kasus dugaan penistaan agama, pelecehan terhadap lambang negara, dugaan munculnya generasi baru dari rahim Ideologi Komunisme adalah bagian dari masalah yang sedang kita hadapi bersama. Sehingga terjadilah proses konsolidasi massif yang terus-menerus memantik perhatian elit untuk sesegera mungkin disahuti sesuai dengan keinginan mereka. Jika tak diamini, brutalisme sosial adalah jawabannnya.  Demikianlah kondisi bangsa dewasa ini. Padahal jika ditarik ke dalam ruang batin ke-Indonesia-an, konsensus berba

ASN di Era Pilkada Langsung

Aparatur Sipil Negara (ASN), dalam setiap perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), selalu menjadi objek yang tak terpisahkan dari diskursus politik. Sebab dipandang sebagai objek kuantitatif yang paling mudah ditebak potensi plus minusnya. Secara garis besar, ada yang berada di posisi struktural, ada pula yang berada pada ruang fungsional.  Kendati demikian, posisi struktural dipandang sebagai objek paling dipertaruhkan. Sebab di dalamnya mengandung sejumlah kewenangan yang berpotensi menguatkan jejaring kepentingan. Jadilah birokrasi sebagai instrumen tak tertulis, namun gerakannya deras dalam peta politik.  Terdapat dua hal paling mudah untuk memetakan potensi ASN pada setiap momentum politik. Pertama, ASN merupakan kekuatan mobilisasi paling 'cetar membahana' untuk mewujudkan suatu kepentingan politik. Pada posisi sebagai pejabat eselon misalnya, ia dengan mudah bergerak ke lapangan dengan sejumlah agenda yang dikamuflase. Entah bersifat sosialisasi, koordinasi

Otonomi Berpikir Jurnalis

Di Indonesia, legitimasi hukum terhadap kebebasan pers bolehlah disebut sebagai anak emas reformasi. Sebab dengan kelahirannya, telah membuka sejumlah tirai kekuasaan yang selama puluhan tahun dianggap tabu, terlarang dan destruktif.  Kendati dalam perkembangannya, klaim kebebasan pers itu sendiri tak berjalan mulus. Ada banyak rantai dan belenggu yang melingkupinya. Tak terkecuali dengan bangunan perspektif yang masih disesaki dengan multi debat. Pers yang bebas diseret dalam perdebatan personal sekaligus institusional; antara kebebasan personal jurnalis dengan kebebasan institusi perusahaan media.  Ajaibnya, masih terasa hangat keseruan perdebatan itu, gempuran luar dan dalam juga tak kalah derasnya. Terkait kesungguhan insan pers untuk berpegang teguh pada kesucian nilai dan idealismenya. Sementara di lain sisi, wajah media tak pernah lepas dari kepentingan industri. Sikap kecewa berat terhadap perdebatan di atas pun memunculkan kesimpulan patah dengan hadirnya jenis pe