Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Belajar Dari Naga Bonar Dan Ahmadinejad

Seorang aktor kawakan, yang pernah memperoleh penghargaan dari Presiden SBY, karena terharu dengan hasil garapannya dalam sinetron yang diberi judul “Kiamat sudah dekat”, bernama Deddy Mizwar kembali menorehkan jasanya pada dunia perfilman. Dia bertindak sebagai sutradara sekaligus membintangi karya monumentalnya. Di dalamnya terungkap sebagian besar dari realitas yang sedang kita hadapi. Deddy Mizwar yang melakonkan figur seorang Nagabonar, begitu piawai dalam menerjemahkan berbagai keresahan kolektif bangsa, hingga menjadi tontonan yang mengharukan jiwa. Dalam cerita tersebut digambarkan, bahwa pada suatu ketika, Nagabonar dihalangi oleh seorang polisi. Lalu dengan sekedar gertakan otoritas bahwa dia mengaku sebagai seorang Jenderal, maka dengan serta merta Sang polisi itupun ketakutan terbirit-birit. Takut akan nasib pangkatnya sebagai polisi, takut dengan hukuman dari atasannya. Demikianlah realitas tersebut digambarkan dalam nuansa yang lucu, namun mengejek wajah institusi kepolis

Urgensi Penafsiran al-Qur'an Mazhab Indonesia

Al-Quran sebagai petunjuk yang diturunkan oleh Allah swt bagi seluruh umat manusia, memiliki citi-cita ideal untuk membentuk para pembacanya menjadi manusia yang sempurna, baik secara personal maupun secara komunal. Tidak hanya itu, al-Quran juga berfungsi sebagai syifa (penawar) bagi siapa saja yang mengalami keresahan jiwa. Dalam perkembangannya, ternyata proses menuju pemahaman yang komprehensif seringkali sulit ditemukan, utamanya ketika disandingkan dengan beberapa karya tafsir. Banyaknya perbedaan pandangan dalam memahami al-Quran tidak jarang semakin memperuncing masalah, khususnya yang terkait dengan persoalan khilafiyah. Karenanya, dibutuhkan sebuah diskusi panjang untuk mendudukkan masalah ini dan memberikan tanggapan secara proporsional. Memahami Tafsir Sebagaimana lazimnya, sebuah penafsiran tidaklah selalu persis dengan maksud al-Quran yang sebenarnya. Nasr Hamid Abu Zaid dalam bukunya yang berjudul Tekstualitas al-Quran: Kritik Wacana Ulumul Quran menyatakan bahwa ketika

Majene Dan Skenario Besar Menuju Pilkada

Hangat!!! Begitulah respon saya ketika mencoba menelusuri realitas politik yang mulai mengerucut di Majene. Di Kabupaten terkecil yang berpenduduk sekitar seratus lima puluh ribu jiwa di Sulbar inilah, sejumlah politisi-birokrat, atau birokrat-politisi saling berkompetisi menuju kursi empuk nomor wahid, Bupati Majene. Memang, persoalan Pilkada di Majene terbilang terlalu dini untuk dibicarakan. Apalagi perjalanan pemerintahan hari ini masih harus menempuh sekian banyak program yang belum ditunaikan, entah program untuk rakyat ataupun untuk yang lain. Akan tetapi, kitapun tentu tidak dapat menutup mata akan setiap modus operandi yang dilakonkan oleh beberapa tokoh yang disinyalir akan menjadi kontestan pilkada nantinya. Yang jelas, di mata rakyat hari ini, terekam sebuah pesan tersirat bahwa setiap kebaikan harus dibalas dengan garansi politik pada pilkada mendatang. Tulisan ini, tentu diharapkan dapat menjadi referensi ke depan dalam menelaah setiap realitas politik yang dapat berubah

Ketika Kebahagiaan disalah ukuri

Tulisan ini merupakan ulasan atas hasil perbincangan saya dengan sekumpulan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok mejelis taklim “Tazkiyatunnufus” di Kelurahan Pangali-ali Kab. Majene. Sore itu, saya mendatangi kaum ibu-ibu dengan bermodalkan sebuah buku kecil (karena tidak Pe-de disebut Ustadz), berjudul “Meraih kebahagiaan”, karya Jalaluddin Rakhmat (2006). Dari sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh Ibu-ibu tersebut, saya merasa tertantang untuk menyelami lebih dalam karena memiliki kekuatan faktawi. Tentu, sebagai instrumen saya dalam melakukan analisa lebih lanjut. Sepekan kemudian saya kembali mengutak-atik beberapa buku yang menumpuk di lemari saya yang sudah tidak layak jual. Dan kutemukan salah satu karya emas Martin EP. Seligman, berjudul “Authentic Happines”. Saat membaca ulasan awal Kang Jalal, saya langsung dibenturkan dengan masalah yang sangat teosentris. Beliau membongkar cakrawala berfikir saya dengan satu kalimat; “Demi perjuangan, campakkan kebahagiaan !!!”. Semakin

Parpol di Tengah redupnya Isu Lokal

Keberadaaan parpol saat ini mengalami ambiguitas di mata publik. Pada satu sisi, parpol merupakan bagian dari sebuah sistem yang berlaku di negara ini. Sedang pada sisi yang lain, fakta sosial membeberkan citra yang lain, karena parpol saat ini mengalami “cedera berat” akibat ulah elit politik yang saling berbondong-bondong menuju meja hijau di pengadilan. Kasusnya bermacam-macam. Ada yang disebabkan oleh kelalailan administratif, korupsi, suap, hingga pada persoalan perempuan (selingkuh). Fakta ini menunjukkan kepada kita semua akan keberadaan parpol hingga hari ini, belumlah dapat merepresentasikan diri sebagai alat ampuh dalam mengelola dan mengawasi sistem yang sedang dan akan berlangsung. Belum lagi dengan jumlah partai yang semakin membengkak hingga ke level 34. Direktur Sekolah Demokrasi Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, mengatakan, jumlah peserta pemilu 2009 mendatang semakin membuktikan dua kegagalan sekaligus, politikus gagal mengendalikan eufhoria pendirian partai, serta gagal

Bencana tidak datang tanpa sebab

Dalam sepekan terakhir, kita mendengar teriakan histeris dari berbagai sudut dan belahan dunia. Pada mulanya, kita disuguhi “kado” awal tahun ini dengan serangan bom yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap penduduk Gaza, Palestina. Tidak sedikit di antara yang meninggal adalah masyarakat sipil. Dan, “kado” yang kedua justeru menghentakkan kita di saat hujan mengguyur beberapa hari terakhir. Di Tinambung Polewali Mandar, puluhan bahkan ratusan rumah porak-poranda akibat banjir. Beberapa rumah ibadah terpaksa “diliburkan” karena penuh dengan lumpur. Warga yang hendak mandi terpaksa menunggu waktu petang untuk sekedar bersembunyi di balik tirai kegelapan. Peristiwa pilu juga terjadi di Majene. Untuk kedua kalinya, setelah kasus Adam Air, Majene kembali menjadi sorotan media nasional dengan tenggelamnya Kapal Penumpang Teratai Prima Kosong yang mengangkut sekitar 200 Orang lebih dari Pare-pare menuju Samarinda Kalimantan Timur. Korban yang ditemukan baru sekitar 18 orang. Kejadian sebe

Manipulasi Makna Persatuan

Isu “persatuan” mengemuka setiap saat, tergantung pada momen yang didapatinya. Istilah persatuan menjadi istilah trend dalam setiap pernyataan politik para elit-elit bangsa. Hal yang memiliki makna sepadan juga turut ikut di dalamnya. Misalnya, kebersamaan, kesetaraan, sekampung, satu sumber, satu nenek moyang, hingga satu kepentingan. Pada wilayah sosial keagamaan, istilah persatuan juga menjadi konsumsi penting dalam menjaga keutuhan kepercayaan yang telah diyakini selama ini. Tengoklah pernyataan salah seorang tokoh pembaharu Islam, Muhammad Abduh. Beliau menawarkan ide tentang perlunya pembedaan antara konsep persatuan dan penyatuan. Baginya, penyatuan antar penganut agama adalah hal yang mustahil, sedang persatuan merupakan harapan yang manusiawi, dan dianjurkan. Tengok pulalah impian dan keinginan para ulama terdahulu yang dimotori oleh tokoh Ikhwanu al-Muslimin, Hassan al-Banna, yang mencoba meretas faksi-faksi setiap alur keyakinan dan mazhab dengan membentuk sebuah lembaga per

Haji di Mata “Kompeni”

Dari sudut pandang fenomenologis, peristiwa haji terbilang cukup unik dibandingkan dengan praktek-praktek ibadah ritual lainnya. Efeknya tidak hanya terkait pada sosok yang akan menunaikan haji, namun juga pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Berdasarkan data Kompas (20/11), Andi Suruji mewartakan, dengan asumsi ongkos naik haji (ONH) rata-rata Rp. 30 juta, artinya sedikitnya Rp. 6,3 triliun lebih uang yang berputar, khusus untuk masalah haji tahun ini. Belum lagi bagi sejumlah jamaah yang ingin menunaikan haji dengan cara plus; plus uang, plus fasilitas dan sebagainya. Bagi jamaah yang menginginkan perjalanan haji plus, mereka tidak tangung-tanggung untuk “menumpahkan” hartanya sekalipun biaya yang dikeluarkan mencapai 100% dua kali lipat dari biaya haji regular. Itu baru ONH, kata Suruji, karena di luar kewajiban tersebut, masih banyak kebutuhan-kebutuhan lainnya yang sangat bersinggungan dengan masalah uang. Misalnya masalah pernak-pernik, biaya administrasi, biaya manasik, b

Menggugat Iklan Wartawan Plus Caleg

Bayang-bayang pemilu 2009 mendatang telah memberikan sejumlah fenomena sosial yang menarik untuk dibincangkan. Mulai dari aspek idealnya, hingga pada tataran pragmatisnya. Bagi Eep Saefulloh Fatah, pemilu 2009 seyogyanya mengantar para pemilih untuk beranjak dari nilai suporters menuju nilai voters. Artinya, pemilih mendatang sebaiknya semakin tercerahkan dengan makin banyaknya jumlah partai politik yang bermunculan. Dari sekedar kecerdasan memilih caleg hingga pada wilayah kecerdasan menagih janji (setelah di parlemen nantinya). Pada tulisan kali ini, penulis akan menyoroti sikap sebagian “kaum” jurnalis, atau lebih tepatnya, wartawan yang telah memasuki lingkaran politik praksis dengan cara mengajukan diri sebagai salah satu kontestan pemilu pada 2009 mendatang. Bagi penulis, fenomena ini, ternyata bagian dari kelanjutan selebrasi kekuasaan yang menghinggap di tubuh jurnalis, baik lokal maupun nasional. Agar tulisan ini tidak dimaknai sebagai “pencekalan dini” terhadap para wartaw

Andai Aku Sudah Pensiun

Sebetulnya tidak alasan yang lebih logis mengapa aku tersentak untuk membicarakan sedikit tentang masa depanku ketika telah memasuki masa pensiun. Tapi boleh jadi akibat “gesekan genetika” dari orang tuaku yang telah menghitung hari jelang memasuki masa pensiunnya. Menyandang predikat sebagai pensiun sama halnya dengan orang yang telah khatam dalam sebuah perguruan bela diri. Artinya, pengabdiannya selama ini telah cukup membawa jejak bagi generasi selanjutnya, entah baik maupun buruk. *** Publik telah paham betul akan keberadaanku saat ini. Kesibukan kantor sudah tidak lagi menguras tenaga aku. Saat ini, aku mengalami proses adaptasi dari kehidupan serba instruktif menuju kehidupan yang dinamis. Pada saat ini pula telah banyak tawaran dari beberapa kolega aku untuk bergabung di partainya. Motif mereka dalam berdialogpun bermacam-macam. Ada yang berasalan idealis, konstruktif, ingin mengangkat kepentingan keluarga yang selama termarginalkan, hingga pada hasrat untuk sekedar “mencicipi”

Janji Politik, Janji Tuhan?

Isu politik jelang pemilihan umum 2009 semakin hari, semakin gencar. Mulai dari sudut, hingga jantung kota terpajang ikon pembaharuan berbarengan dengan gambar para calon anggota legislatif. Ada yang menjanjikan perubahan, mengukuhkan pilihan untuk tidak beralih ke lain hati, meluruskan nasib bangsa, tak berjanji namun memberi bukti, bahkan sampai pada eksploitasi kaum leluhur/ nenek moyang yang telah lama bersemayam di alam kubur. Ada pula yang membeberkan sejumlah prestasi yang diraihnya selama ini. Kesemuanya itu merupakan bagian dari strategi dan hasrat besar untuk menduduki jabatan empuk di pentas politik dalam segala kontennya. Diakui, bahwa pemilu 2009 merupakan ajang yang paling terbuka bagi siapapun yang menjadi caleg untuk maju sebagai kontestan politik. Akan tetapi, sejak dinipun kita hendaknya lebih cermat membuka mata lebar-lebar alias bersikap objektif, bahwa kondisi masyarakat hari ini sedang mengalami kondisi psikologis yang cukup akut. Kondisi tersebut yakni munculnya