Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Menjaga Ulama, Mencintai NKRI

Siang ini, saat kota Makassar sedang diguyur hujan lebat, saya berjumpa dengan Dr. Firdaus Muhammad. Penulis buku 'Anregurutta, Literasi Ulama Sulselbar' .   Dalam bincang singkat itu, Pak Firdaus, begitu saya menyapa beliau, banyak menjelaskan alasan di balik penulisan buku terbarunya itu. Batinnya terketuk untuk ikut menjadi bagian sejarah pewarisan ulama lintas generasi. Khususnya di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat.   Jika dirunut ke muara jejaring ulama, ditemukan fakta bahwa tak ada hal mendasar yang dapat menjadi alasan untuk berfirqah-firqah di era kekinian. Bahkan dengan alasan beda aliran sekalipun.   Jikapun terdapat perbedaan, itu hanya pada garapan pola mengekspresikan ajaran semata. Sehingga titik temu dari setiap perbedaan pandangan para ulama jauh lebih banyak dari pada alasan pembeda satu sama lain. Lalu mengapa dewasa ini kita terlampau mudah menyemaikan benih pembeda yang kerap berujung pada alasan mematangkan kebencian?   Sebab kita t

Miskin Makna

Roda kemajuan peradaban terus mengantar para pemujanya pada kekayaan khazanah. Histori yang otentik, kebudayaan padat  filosofi, dan pengetahuan kontekstual sebagai tanda besarnya.   Di sini, kita menemukan kekayaan makna yang sungguh luar biasa. Tak ada yang berjalan dengan perspektif seadanya. Sebab di setiap jengkal gerak selalu tertuang pesan-pesan kearifan.   Kekayaan terhadap makna berdampak sehat bagi kemajuan sebuah wilayah. Pun dengan kemajuan sebuah rezim. Sebab di dalamnya kita mampu saling berbagi kekayaan khazanah antara satu dengan lainnya. Tak ada debat kusir. Apalagi debat yang ujungnya hanya menyisakan kekesalan.   Namun harapan itu bakal menjadi utopis dan terkesan sensasional saja, jika tak punya kecakapan membuka tabir kekerdilan. Yang ada hanyalah serupa wujud kehebatan di zona masing-masing, di kandang kita masing-masing.   Manusia acapkali lupa dengan roda perubahan zaman. Ia tak tahu bahwa gerak perubahan itu sedemikian cepat. Sementara ia

Cerita Kekuasaan dan Kekuasaan Bercerita

Tak sedikit energi terkuras di saat publik digiring dalam cerita besar tentang kekuasaan. Untuk tema ini, tak ada pembagian kamar pengetahuan. Semua kelas sosial berhak membincang sedalam-dalamnya.  Cerita tentang kekuasaan telah lama memancarkan aroma beraneka rupa. Kadang manis, asam, asin dan akhirnya, ramai rasanya.  Dikatakan manis sebab kekuasaan mampu menggerakan kehidupan hingga ke level terendah. Sekaligus sanggup menyingkirkan segala bentuk selubung kejahatan hingga ke sudut manapun.  Tapi jangan lupa, kekuasaan juga dapat menjelma dalam cita rasa serba pahit. Itu ditemukan saat hasrat memakmurkan rakyat tersandung oleh beragam kepentingan saling silang. Tabrakan beruntun antar kepentingan kerap tak dapat dibendung. Hingga menyisakan puing-puing cerita kekecewaan. Dalam genggaman kuasa, tak dipungkiri hadirnya celah untuk melakukan apapun sekehendak seorang Penguasa, salah sekalipun. Di sinilah publik dengan mudah melabeli sebagai Pemimpin Otoriter. Bukan han

Mengukur Orang Waras

Baru saja saja usai menjawab 567 soal  psikologi yang disajikan oleh software Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), terbit pada tahun 1940.  MMPI dikembangkan pada tahun 1930 di Universitas Minnesota sebagai tes kepribadian yang komprehensif dan serius yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah kejiwaan. Tes MMPI adalah sebuah alat tes inventori yang berisi banyak pertanyaan dengan option “ya” dan “tidak”, tujuannya adalah untuk mengetahui kepribadian seseorang, terutama gangguan-gangguan psikologis yang ada di dalam diri seseorang, seperti gangguan anti sosial, gangguan seksual, gangguan depresi, kehohongan, dan sebagainya. Peserta lainnya juga mengerjakan hal serupa. Dari proses tersebut, hal menarik ketika membincang bagaimana psikologi gaya MMPI merancang kadar kejiwaan seseorang.  Dengan model ini, kecenderungan yang dihasilkan akan mempersepsi manusia sebagai barang rusak. Sehingga mesti dibengkeli sedemikian rupa. Bila perlu, hadirkan psikiater

Pesona Anwar Adnan Saleh

Pelantikan Pengurus Ikatan Jurnalis Sulawesi Barat (IJS) yang dilangsungkan Senin 4 Desember 2017 menyisakan catatan menarik. Mubazir jika dilewatkan begitu saja.  Bukan tentang siapa yang dilantik. Juga bukan terkait kemeriahan pelantikan. Melainkan sosok yang melantik. Pria yang kini tak lagi punya ikatan struktural di birokrasi. Dialah Anwar Adnan Saleh. Mantan Gubernur Sulawesi Barat. Secara datar, kehadirannya biasa saja. Toh, dia dipercaya sebagai Dewan Pembina Organisasi IJS.  Namun bagi saya, tidak hanya sampai disitu. Hadirnya politisi senior ini menegaskan pesonanya di hadapan awak media. Dia termasuk sosok media darling yang tak tergantikan.  Mengapa? AAS, demikian singkatan populis beliau, telah memiliki daya magnetis bagi media. Dari diamnya, itu telah memantik kerisauan di mata jurnalis tentang apa yang ia pikirkan. Terlebih lagi jika ia melontarkan pernyataan. Paling seru, kalau pernyataan itu menggelinding di ruang kontroversial.  Kenanglah sepuluh tahu

Kemarau Intelektual

Saya membaca tulisan Gus Dur tentang masa depan pemikiran, khususnya di Indonesia. Fase keresahan yang disebutnya sebagai kemarau Intelektual itu, kian terasa akhir-akhir ini. Membaca tatanan politik misalnya, hanya ramai dengan pembangunan perspektif citra dan dramaturgi. Dalam artian, dimensi stereotip terhadap politik merajai setiap ruang dialektika politik itu sendiri.  Padahal, politik seharusnya menjadi gerbang kehidupan untuk meraih tuntutan bersama; hadirnya masyarakat adil dan makmur. Politik juga meniscayakan tumbuh kembangnya sebuah tatanan peradaban. Sehingga tidak tepat jika bincang politik harus selalu kandas dalam kesimpulan menyakitkan. Bahwa khusus untuk tema yang satu ini, hanya tepat dibicarakan jika punya pengalaman muslihat di lapangan.  Belum lagi dalam ruang kebudayaan kita. Kecenderungannya kerap membuat jarak eksklusif terhadap realitas di luar. Aktivitas kebudayaan tak ubahnya terus memberi kutukan terhadap roda perkembangan zaman. Sementara kesuc

Rontoknya Nilai Sebuah Karya

Pergeseran era industri menuju era digital tak melulu mampu menggeser segala hal agar turut maju. Ada saja dimensi tertentu yang entah terlupa, atau tertolak oleh roda kecepatan zaman. Sebuah pertanyaan yang terasa mubazir dikemukakan; masih adakah informasi yang tak tergarap oleh teknologi digital hari Ini?  Sebab dengan bermodal smartphone, gugusan informasi itu telah hadir dalam genggaman orang per orang. Bagi Habermas, inilah fase kemabukan zaman, ditandai dengan ekstase informasi.  Belum cukup kita menikmati sendawa, muncul lagi deretan kabar lainnya. Hasilnya, kita mulai mual dengan aneka rupa sajian itu. Bahkan, tanpa rasa mual sekalipun, kita telah cukup merasakan obesitas, penghalau gerak bagi tubuh. Hadirnya media online juga tak ubahnya melengkapi rasa kenyang itu. Padahal, di lain sisi, gempuran kabar palsu juga tak kalah menyesakkan dada. Garis pembatas antara kebenaran dan berita bohong kian tipis, samar-samar dan akhirnya mewabah menjadi bumbu prahara ke

Jiwa Yang Jauh

Manusia Agung, pembawa berkah bagi semesta alam, Muhammad saw. Hadirnya sebagai senjata pamungkas bagi para pengingkar kebenaran. Pelipur lara bagi manusia penuh derita. Yang mukjizat ditangguhkan hingga hari pengadilan Ilahi; itulah syafaat Nabi Muhammad saw, rahmatan lil alamin.  Kini, beliau hadir dalam gegap gempita bulan maulid. Keberkahannya selalu dinanti oleh mereka yang percaya pada keajaiban, keberkahan dalam dimensi lintas batas. Bahwa Muhammad saw bukanlah hanya dia yang lahir di tahun gajah. Lalu wafat dan dikenang seadanya.  Muhammad saw adalah dimensi awal dan akhir, zahir dan batin. Beliau akan terus menanti setiap umat yang merapalkan nama dan mengabadikan ajarannya. Siapa yang menyebutkan namanya, sekali saja, ia akan disambut dengan anugerah kebaikan berlipat lapis. Tak peduli dari bibir mana nama Muhammad dilafadzkan; pengumpat, pendurhaka, pemaki, pezina, pengutuk, penipu. Seluruhnya luluh lantak, hancur lebur oleh kerinduan pada sosok agung itu. Kali