Langsung ke konten utama

Postingan

Hiperrealitas Pemimpin Agamis

Dalam beberapa peristiwa politik, kepemimpinan di semua tingkatan, acapkali dikaitkan dengan tindakan-tindakan religiusitas. Tentu bukan hal mengagetkan. Sebab sejumlah lembaga survey seringkali mencantumkan aspek religius sebagai salah satu faktor tinggi rendahnya tingkat ketenaran, kesukaan dan pilihan publik.  Memang diakui, dalam diskursus relasi Agama dan Politik, keduanya tak benar-benar dapat dipisahkan secara ekstrim. Agama menjadi penyokong hadirnya iklim politik yang sehat, santun dan berkeadaban. Pun dengan Politik, memiliki peran penyokong dalam agenda pencerahan umat, menuju keselamatan dunia dan akhirat.   Problemnya kemudian adalah, ketika kepemimpinan itu mendapatkan polesan agamis. Alias tidak benar-benar agamis. Atau agamis karena tunduk pada momentum situasional. Sebab satu hal yang pasti, menyeret ruang agama dalam kepentingan politik pragmatis, selamanya hanya akan mengorbankan agama, berikut para penganutnya. Betapa tidak, di tengah kepo...

Milenial dan Semangat Takfiri

Pew Research Center merilis definisi baru generasi milenial. Generasi milenial dalam definisi ini memiliki rentang waktu yang sedikit lebih pendek. Ukuran baru menyatakan mereka yang terlahir antara tahun 1981 sampai 1996 adalah generasi milenial. Generasi milenial selama ini dianggap sebagai generasi yang paling tidak dapat dipahami. Sulit untuk menentukan siapa saja yang termasuk generasi milenial, meskipun ada stereotip tertentu yang muncul di permukaan. Misalnya; mereka lebih suka menghabiskan uang untuk piknik, daripada membeli rumah. Demikian halnya dengan gaya beragama kaum Milenial. Terbilang unik, bahkan menggelitik. Sebab kehadirannya telah disambut oleh kecanggihan sains dan teknologi. Berbeda dengan dua lapis generasi di atasnya, hadir di tengah sains dan teknologi sedang berkecambah menuju fungsinya yang kelak benar-benar menjadi sandaran hidup umat manusia.  Mari kita mencermati sejumlah sajian data. Sebuah survei yang dilakukan oleh CSIS (2017) bahwa kau...

Di Tanah Haram Bertaubat, Di Tanah Air Berdosa

Suatu hari, saya berjumpa dengan seorang pria yang kira-kira usianya antara 45-50 tahun. Awalnya, dia bercerita tentang dinamika dunia kerja, yang menurutnya sulit melepas diri dari sikap dan tindakan salah. Ia terus menggerutu akan banyaknya penyimpangan yang dipandang 'bersih' oleh pihak pemeriksa. Namun suara batinnya tak sanggup mendustakan peristiwa sebenarnya. Di tengah ketidaksanggupan berlari dari kebiasaan-kebiasaan buruk itu, si Bapak ini mengaku kehabisan akal. Ia tak punya jurus lain untuk membenahi profesi yang menurutnya memang sulit dilepaskan, dari ragam praktek dosa. "Sudah terstruktur, sistematis dan masif," katanya. Pelariannya hanya satu; Agama. Ia termasuk satu di antara beberapa orang yang sangat percaya dengan pahala dan penghapusan dosa berkali lipat, jika ditunaikan di Dua Kota Suci. Yakni Makkah al Mukarramah dan Madinah.  Ia percaya, sebanyak apapun tumpukan dosa yang diperbuatnya, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah dua per...

Karnaval Agama

Dimensi agama itu, kata Dr. Mulyadhi Kertanegara, ibarat dua sisi tampilan rumah. Sisi pertama disebut rumah rendah, dan sisi kedua disebut rumah tinggi.  Pada sisi rumah rendah, sebagai simbol kulit luar agama. Dalam istilah Nurcholish Madjid disebut sebagai eksoterisme. Adapun rumah tinggi sebagai simbol hakikat, atau ruh beragama alias esoterisme.  Kekuatan ruh beragama, memiliki peran vital untuk mencairkan yang beku, melembutkan yang keras, menguatkan yang lemah, menyakinkan yang ragu, bahkan menghidupkan yang mati. Kekuatan Ruh juga menjadi medium utama proses interaksi hamba dengan Tuhannya.  Namun sayang, kebanyakan manusia lebih mengurusi rumah rendah dari pada rumah tingginya. Ia sibuk memberi aksesoris semewah mungkin. Ia ramaikan dengan pesta dan beragam atraksi yang menakjubkan pandangan manusia.  Tengoklah betapa banyaknya hari ini, potret kegiatan religi yang tak ubahnya sebatas arak-arakan atau karnaval semata. Bahkan tak tanggung-tan...

Puasa di Era Corona

Kehadiran puasa kali ini berbeda. Sungguh berbeda. Jika di tahun-tahun sebelumnya, bayang-bayang kehadiran bulan suci Ramadhan diramaikan oleh iklan Syrup di televisi, perusahaan Sarung jadi sponsor utama acara religi, dan produksi musik religi seketika naik daun. Kini tak semeriah itu lagi. Dunia sekarang sedang berduka. Wabah Virus Covid 19 alias Corona datang menghantam lebih dari separuh jumlah negara di dunia, termasuk di Indonesia. Awalnya, disinyalir hanya akan menimpa sejumlah negara maju kelas papan atas. Tapi rupanya virus itu tak kenal kelas. Ia melakukan aksi pukul rata tanpa pandang bulu. Terhadap orang salah ataupun orang saleh, semuanya sama. Di Indonesia sendiri, sejumlah upaya dilakukan untuk menekan jumlah korban keganasan Corona. Pesan untuk rajin Cuci Tangan, Jaga Jarak, hingga berdiam di rumah menjadi kalimat-kalimat bijak, mengalahkan kearifan yang jamak kita simak selama ini. Puasa di Era Corona ini, setidaknya akan mengubah sejumlah pola hidup dan k...

Keberagamaan Yang Tergerus

Generasi tua, boleh saja bangga dengan kisah manisnya di masa lalu. Tinggal di desa, menikmati kicau burung dan dinginnya alam. Selepas zhuhur, sudah berada di rumah Guru ngaji. Pulang mengaji, bisa langsung bermain di lapangan bola.  Saat maghrib tiba, sekumpulan anak-anak yang beranjak remaja berebutan jadi muazzin di Masjid. Sementara yang lain memilih mengambil sapu, membersihkan lantai masjid.  Tapi, cerita di atas nyaris tak menarik dikisahkan untuk generasi masa kini. Eranya sungguh berbeda. Jika dahulu kala, kehidupan kampung sangat akrab dengan semangat saling berbaur dan menjunjung nilai-nilai subtantif agama, kini, gaya menyorotnya mesti berbeda.  Apa yang dihadapi generasi masa kini, terlanjur dikuasai oleh kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi. Sebut saja media sosial. Alat telekomunikasi dalam genggaman itu menjanjikan kehidupan serba simpel. Tak terkecuali dengan gaya hidup menangkap pesan-pesan agama. Agama yang dipahami hari ini ibarat...

Suluk Matan dan Gairah Spiritual

“Masihkah metode pengajaran spiritual yang selama ini diterapkan relevan dengan kondisi kekinian? Apa yang harus dilakukan oleh para pengamal Thariqah untuk menjemput era 4.0?” Demikian pertanyaan menukik yang dilontarkan Mursyid Thariqah Khalwatiyah Syekh Yusuf al Makassary, Habib Abdul Rahim Aseggaf atau sering disapa Puang Makka, jelang akhir tahun 2019 lalu, di Makassar. Pertanyaan itu cukup beralasan. Di tengah derasnya sajian agama yang kian instan serta munculnya beragam praktek spiritual yang bermasalah, meniscayakan perlunya menemukan pola baru. Setidaknya ada dua poros yang patut dicermati. Pertama, kehadiran sajian tema-tema agama di media sosial semakin memunculkan problem beragama di lingkungan terdekat, yakni keluarga. Tak jarang, orang tua menjadi objek tuduhan negatif dari anaknya sendiri. Bahwa mereka telah salah dalam mentranformasikan ajaran agama selama ini. Bahkan bukan hal aneh, ketika wibawa orang tua masa kini diruntuhkan oleh pa...