Dalam beberapa peristiwa politik, kepemimpinan di semua tingkatan, acapkali dikaitkan dengan tindakan-tindakan religiusitas. Tentu bukan hal mengagetkan. Sebab sejumlah lembaga survey seringkali mencantumkan aspek religius sebagai salah satu faktor tinggi rendahnya tingkat ketenaran, kesukaan dan pilihan publik. Memang diakui, dalam diskursus relasi Agama dan Politik, keduanya tak benar-benar dapat dipisahkan secara ekstrim. Agama menjadi penyokong hadirnya iklim politik yang sehat, santun dan berkeadaban. Pun dengan Politik, memiliki peran penyokong dalam agenda pencerahan umat, menuju keselamatan dunia dan akhirat. Problemnya kemudian adalah, ketika kepemimpinan itu mendapatkan polesan agamis. Alias tidak benar-benar agamis. Atau agamis karena tunduk pada momentum situasional. Sebab satu hal yang pasti, menyeret ruang agama dalam kepentingan politik pragmatis, selamanya hanya akan mengorbankan agama, berikut para penganutnya. Betapa tidak, di tengah kepo...