Langsung ke konten utama

Postingan

Kekuatan Bahasa di Tengah Gagap Bahasa

Kosa kata tidak selamanya berdiri tunggal dalam realitas. Ia diapit oleh area konteks karena memiliki cita rasa yang beraneka rupa. Istilah retorika misalnya, awalnya muncul memberi bobot dalam ruang komunikasi. Namun akhir-akhir ini, pilihan untuk menggunakan istilah retorika menimbulkan kekuatiran mendalam. Sebab telah terlampau dalam tertuduh sebagai modus kebohongan yang dibungkus ketulusan.  Salah satu elemen penting dalam sejarah peradaban manusia adalah bahasa. Sebab, manusia lahir dan tumbuh telah dikepung oleh bahasa. Ibarat menghirup udara, setiap saat kita menghirupnya tanpa bertanya dari mana asal-usul udara itu. Secara harfiah, bahasa adalah percakapan. Bahasa muncul ketika bunyi dan gagasan tampil secara bersamaan dalam suatu perbincangan atau pun wacana. Demikian ulasan Muhammad Sabri Ar dalam bukunya, Mengurai Kesenyapan Bahasa Mistik; Dari Filsafat Analitik ke Epistemologi Hudhuri (2017; 76).   Bahasa, kini, tidak lagi disorot sebagai objek kajia...

Keragaman Budaya Indonesia dan Inklusi Sosial

Bagi Bangsa Indonesia, bulan Agustus memiliki sakralitas yang sangat tinggi. Bulan Agustus adalah momentum merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia, setelah lepas dari cengkeraman penjajah. Tanpa harus memilah dan memilih segmen sosial, perhelatan Agustusan mewujud dalam aneka rupa hajatan riang gembira ala rakyat. Di sejumlah kompleks perumahan tampak aneka ragam perlombaan. Mulai dari lomba lari karung, tarik tambang, makan kerupuk dan lain sebagainya.  Tak kalah serunya, di berbagai pelosok kampung juga digelar hal serupa. Bahkan lebih seru. Sebab suasana kampung yang selama ini tampak sepi, seketika begitu meriah. Rupanya ada lomba panjat pinang, tarik tambang, hingga karaoke kelas Electone. Begitulah ekspresi anak bangsa setiap kali bulan Agustus itu tiba.  Tapi untuk tahun ini, di Sulawesi Barat, kemeriahan itu sontak terhenti, setelah munculnya protes massa di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Barat. Ini dipicu oleh lahirnya hasil lokakarya mua...

Menjaga Ulama, Mencintai NKRI

Siang ini, saat kota Makassar sedang diguyur hujan lebat, saya berjumpa dengan Dr. Firdaus Muhammad. Penulis buku 'Anregurutta, Literasi Ulama Sulselbar' .   Dalam bincang singkat itu, Pak Firdaus, begitu saya menyapa beliau, banyak menjelaskan alasan di balik penulisan buku terbarunya itu. Batinnya terketuk untuk ikut menjadi bagian sejarah pewarisan ulama lintas generasi. Khususnya di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat.   Jika dirunut ke muara jejaring ulama, ditemukan fakta bahwa tak ada hal mendasar yang dapat menjadi alasan untuk berfirqah-firqah di era kekinian. Bahkan dengan alasan beda aliran sekalipun.   Jikapun terdapat perbedaan, itu hanya pada garapan pola mengekspresikan ajaran semata. Sehingga titik temu dari setiap perbedaan pandangan para ulama jauh lebih banyak dari pada alasan pembeda satu sama lain. Lalu mengapa dewasa ini kita terlampau mudah menyemaikan benih pembeda yang kerap berujung pada alasan mematangkan kebencian?   S...

Miskin Makna

Roda kemajuan peradaban terus mengantar para pemujanya pada kekayaan khazanah. Histori yang otentik, kebudayaan padat  filosofi, dan pengetahuan kontekstual sebagai tanda besarnya.   Di sini, kita menemukan kekayaan makna yang sungguh luar biasa. Tak ada yang berjalan dengan perspektif seadanya. Sebab di setiap jengkal gerak selalu tertuang pesan-pesan kearifan.   Kekayaan terhadap makna berdampak sehat bagi kemajuan sebuah wilayah. Pun dengan kemajuan sebuah rezim. Sebab di dalamnya kita mampu saling berbagi kekayaan khazanah antara satu dengan lainnya. Tak ada debat kusir. Apalagi debat yang ujungnya hanya menyisakan kekesalan.   Namun harapan itu bakal menjadi utopis dan terkesan sensasional saja, jika tak punya kecakapan membuka tabir kekerdilan. Yang ada hanyalah serupa wujud kehebatan di zona masing-masing, di kandang kita masing-masing.   Manusia acapkali lupa dengan roda perubahan zaman. Ia tak tahu bahwa gerak perubahan itu sedemik...

Cerita Kekuasaan dan Kekuasaan Bercerita

Tak sedikit energi terkuras di saat publik digiring dalam cerita besar tentang kekuasaan. Untuk tema ini, tak ada pembagian kamar pengetahuan. Semua kelas sosial berhak membincang sedalam-dalamnya.  Cerita tentang kekuasaan telah lama memancarkan aroma beraneka rupa. Kadang manis, asam, asin dan akhirnya, ramai rasanya.  Dikatakan manis sebab kekuasaan mampu menggerakan kehidupan hingga ke level terendah. Sekaligus sanggup menyingkirkan segala bentuk selubung kejahatan hingga ke sudut manapun.  Tapi jangan lupa, kekuasaan juga dapat menjelma dalam cita rasa serba pahit. Itu ditemukan saat hasrat memakmurkan rakyat tersandung oleh beragam kepentingan saling silang. Tabrakan beruntun antar kepentingan kerap tak dapat dibendung. Hingga menyisakan puing-puing cerita kekecewaan. Dalam genggaman kuasa, tak dipungkiri hadirnya celah untuk melakukan apapun sekehendak seorang Penguasa, salah sekalipun. Di sinilah publik dengan mudah melabeli sebagai Pemimpin Otori...

Mengukur Orang Waras

Baru saja saja usai menjawab 567 soal  psikologi yang disajikan oleh software Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), terbit pada tahun 1940.  MMPI dikembangkan pada tahun 1930 di Universitas Minnesota sebagai tes kepribadian yang komprehensif dan serius yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah kejiwaan. Tes MMPI adalah sebuah alat tes inventori yang berisi banyak pertanyaan dengan option “ya” dan “tidak”, tujuannya adalah untuk mengetahui kepribadian seseorang, terutama gangguan-gangguan psikologis yang ada di dalam diri seseorang, seperti gangguan anti sosial, gangguan seksual, gangguan depresi, kehohongan, dan sebagainya. Peserta lainnya juga mengerjakan hal serupa. Dari proses tersebut, hal menarik ketika membincang bagaimana psikologi gaya MMPI merancang kadar kejiwaan seseorang.  Dengan model ini, kecenderungan yang dihasilkan akan mempersepsi manusia sebagai barang rusak. Sehingga mesti dibengkeli sedemikian rupa. Bila perlu, hadir...

Pesona Anwar Adnan Saleh

Pelantikan Pengurus Ikatan Jurnalis Sulawesi Barat (IJS) yang dilangsungkan Senin 4 Desember 2017 menyisakan catatan menarik. Mubazir jika dilewatkan begitu saja.  Bukan tentang siapa yang dilantik. Juga bukan terkait kemeriahan pelantikan. Melainkan sosok yang melantik. Pria yang kini tak lagi punya ikatan struktural di birokrasi. Dialah Anwar Adnan Saleh. Mantan Gubernur Sulawesi Barat. Secara datar, kehadirannya biasa saja. Toh, dia dipercaya sebagai Dewan Pembina Organisasi IJS.  Namun bagi saya, tidak hanya sampai disitu. Hadirnya politisi senior ini menegaskan pesonanya di hadapan awak media. Dia termasuk sosok media darling yang tak tergantikan.  Mengapa? AAS, demikian singkatan populis beliau, telah memiliki daya magnetis bagi media. Dari diamnya, itu telah memantik kerisauan di mata jurnalis tentang apa yang ia pikirkan. Terlebih lagi jika ia melontarkan pernyataan. Paling seru, kalau pernyataan itu menggelinding di ruang kontroversial.  Ken...