Langsung ke konten utama

Postingan

Masih 'Adakah' Tuhan di 2017?

Fase kehidupan telah banyak dilumuri aneka modernitas. Manusia yang hadir di dalamnya dipaksa takluk atas dalih melepas diri dari ketertinggalan zaman. Siapa yang tak berpacu dengan sajian kemajuan zaman, ia akan diterkam lalu disekap dalam buntalan generasi tak berguna. Jadilah seluruh rutinitas digerakkan pada ketundukan serba mencekik. Kebutuhan diabaikan, keinginan diagungkan. Kepalsuan dikejar, ketulusan dipinggirkan. Kemerdekaan dimatikan, kerakusan dilanggengkan. Inilah bentuk kekuatiran jamak bagi manusia yang masih menyisakan satu pertanyaan sebagai tali tasbih agar tak terseret dalam arus dan badai modernisasi. Tali pengikat dalam bentuk kalimat tanya itu; Masih Adakah Tuhan hari ini dan esok? Pertanyaan menukik ini jelas tak sedang menggusur zat Tuhan sebagai Maha di atas segala-galanya. Namun sedang menggugat gerak zaman yang terus bergulir, menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai makhluk yang berketuhanan.  Tengoklah rutinitas serta daya kejar manusia de...

Teror Akhir Tahun

Energi bangsa ini terus saja terkuras jika momentum akhir tahun itu tiba. Aksi teror terjadi di berbagai wilayah. Mulai dari kasus perusakan rumah ibadah, hingga tindakan sadis bom bunuh diri.  Ajaibnya, tensi aksi teror terasa kian meningkat dari tahun ke tahun. Tak terkecuali tahun ini yang menimbulkan kepanikan luar biasa di tengah warga. Lebih mencengangkan lagi, sebab peristiwa tersebut terjadi di beberapa tempat pada hari yang sama.  Peristiwa ini jelas bukan lagi dalam batas-batas yang wajar dimaklumi seadanya. Apalagi jika hanya ditangkap dalam frame berpikir jamak sebagai percikan yang tak berpotensi menjadi kobaran api kelak.  Dalam beberapa diskusi terkait gerakan teror ini, doktrin 'merasa suci' masih tetap menjadi tema besar yang melingkupi cara berpikir para pelaku tersebut. Ini dipicu oleh waham yang terlampau besar terhadap realitas di luar diri mereka sebagai makhluk perusak alam semesta. Sebaliknya, di tangan merekalah otoritas kebenaran itu...

Saat Maulid Nabi saw, Anda Bawa Apa?

Sulit untuk tak mengucap takjub kepada jutaan penduduk bumi yang menggelar tradisi penghormatan beralas cinta kepada Nabi Muhammad saw. Ini telah menjadi tradisi tahunan di seluruh belahan bumi. Mereka menggelar dengan ragam ekspresi cinta. Di antaranya larut dalam bara api kerinduan yang menyisakan tangis penuh harap. Agar kelak, saat hari kebangkitan itu tiba, sosok Muhammad pilihan Tuhan hadir menjadi saksi atas nama kesetiaan kepadanya. Jadilah syafaat sebagai sebab utama mengapa Tuhan menepikan murkanya kepada umat manusia. Tapi tak dinyana, tradisi penghormatan kepada Nabi Muhammad saw kerap kali berakhir dalam ritual-ritual tanpa makna. Kegembiraan yang diluapkan teramat jauh dari getaran cinta. Yang tersisa hanyalah cerita dan lelucon di antara pengkhotbah dan jamaah. Lalu apa sesungguhnya yang anda bawa saat menghadiri majelis maulid. Apa pula yang anda bawa pulang setelah ritual itu usai?  Dalam perspektif spiritualisme, bahwa di seluruh majelis kerinduan atas na...

Al-Faqir Sebagai Identitas Diri

Dalam buku Pesantren Studies 2b (2012), Ahmad Baso mengulas seputar kebiasaan orang-orang pesantren menandai diri sebagai al-Faqir. Jika dalam pemaknaan sederhana, jelas akan menyibak kesimpulan patah. Sebab bakal diseret pada asumsi serba kere, terbatas dan tak berdaya saing.  "Ini adalah kebiasaan kalangan pesantren untuk menunjukkan identitas dirinya yang bersikap tawadhu atau merendahkan hati di depan khalayaknya. Bukan merendahkan diri mereka sendiri," demikian ulasan Ahmad Baso.  Padahal, lanjutnya, ini semata-mata untuk tetap menjaga dan merawat bangunan kesucian batin yang terus diasah agar tak lepas kendali, masuk dalam sengkarut kesombongan, riya dan sum'ah. Perilaku ini disebut dengan Iltimasul Ma'dzirah . Yakni, sikap mengedepankan kerendahan hati, lebih menampilkan sisi kekurangan dan kelemahan sebagai bagian dari sikap menjaga gerak-gerak batin.  Ini bukan tanpa landasan, tanpa makna. Sebab Nabi saw-pun mengajarkan satu doa agar tetap dijadi...

Stagnasi Toleransi

Gagasan Toleransi akhir-akhir ini tampaknya terus tergerus tanpa daya tangkal. Toleransi di Indonesia terasa memperoleh pukulan telak setelah munculnya kasus dugaan penistaan Agama. Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok diduga telah menistakan agama lewat Qs. Al Maidah: 51. Pihak Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB.NU) telah mempermaklumkan bahwa di balik kisruh yang menasional ini, ada jurang besar terhadap masa depan toleransi berbangsa dan bernegara. Sebab di sana, justeru menjadi surga bagi mereka yang telah lama merasa 'hidup sempit-terhimpit' dengan keragaman, toleransi dan multikulturalisme.  Ajaibnya, kata Yenny Wahid, Direktur Wahid Institute, para pihak yang hari ini concern menjaga dan merawat semangat ke-bhinneka-an juga diseret pada tuduhan sebagai bagian dari partisan salah satu calon Gubernur. Sekaligus diposisikan sebagai agen kekuatan yang harus melawan gerakan radikalisme.  Dalam tinjauan opini publik, jelas telah mewabah sebagai lemparan inform...

Pemimpin Itu, Menginspirasi

Kehidupan manusia lebih banyak berada dalam bingkai ketidakpastian. Segala kemungkinan selalu saja ada. Sebelum jauh berada di lingkar kehidupan yang lebih luas, dalam ruang batin pun tetap diliputi oleh konflik kebatinan. Sebelum melerai pertarungan kehidupan di alam makro, meminjam istilah Sachiko Murata, dimensi mikro sepatutnya lebih awal mesti dijinakkan.   Bagi sebagian umat awam, yang jauh dari pusaran kuasa dan kebenaran yang 'diciptakan', suasana kebatinan seperti ini sudah seringkali terjadi. Ditambah lagi dengan maraknya gerakan konspirasi yang terlampau rumit ditarik benang merahnya. Di pentas nasional misalnya, kita sedang dihadapkan pada realitas politik saling sikat. Sekedar untuk jadi pelakon menjernihkan suasana saja, kita butuh kehati-hatian. Sebab dapat menjadi senjata makan tuan. Sebagai misal, Cendekiawan sekaliber Buya Syafii Maarif dalam usia senjanya harus menerima pil pahit atas hujatan haters yang boleh jadi tak pernah pernah bersua dengannya....

Agama, Bangsa dan Media Sosial

Sisi buram era digital tak dapat terhindarkan. Sebab kehadiran teknologi yang makin canggih nyaris berbanding lurus dengan perubahan drastis di tengah-tengah masyarakat.  Dapat dibayangkan, kecepatan berselancar di dunia maya acap kali memunculkan sikap menegasikan objek yang belum tentu dikenali seutuhnya. Tak jarang kita membenci seseorang hanya karena kebencian yang diciptakan oleh dunia maya.  Sangat sejurus dengan teori hipodermik yang digagas sejak 1930 silam. Nilai kebenaranpun bergeser, menjelma dalam standar rating atau tranding topik. Makin banyak yang mencurahkan komentar, makin tinggi pula nilai kebenarannya. Dengan standar kebenaran beralas tranding topik itu, media sosial ternyata mampu menusuk alam kesadaran manusia, untuk bergerak dengan ragam ekspresinya.  Media sosial juga telah mewujud sebagai alat paling canggih menyajikan persepsi negatif terhadap objek apapun. Di sini, pintu masuk untuk menyerang person sangat mudah. Lebih miris, sebab media s...