Langsung ke konten utama

Postingan

Al-Faqir Sebagai Identitas Diri

Dalam buku Pesantren Studies 2b (2012), Ahmad Baso mengulas seputar kebiasaan orang-orang pesantren menandai diri sebagai al-Faqir. Jika dalam pemaknaan sederhana, jelas akan menyibak kesimpulan patah. Sebab bakal diseret pada asumsi serba kere, terbatas dan tak berdaya saing.  "Ini adalah kebiasaan kalangan pesantren untuk menunjukkan identitas dirinya yang bersikap tawadhu atau merendahkan hati di depan khalayaknya. Bukan merendahkan diri mereka sendiri," demikian ulasan Ahmad Baso.  Padahal, lanjutnya, ini semata-mata untuk tetap menjaga dan merawat bangunan kesucian batin yang terus diasah agar tak lepas kendali, masuk dalam sengkarut kesombongan, riya dan sum'ah. Perilaku ini disebut dengan Iltimasul Ma'dzirah . Yakni, sikap mengedepankan kerendahan hati, lebih menampilkan sisi kekurangan dan kelemahan sebagai bagian dari sikap menjaga gerak-gerak batin.  Ini bukan tanpa landasan, tanpa makna. Sebab Nabi saw-pun mengajarkan satu doa agar tetap dijadi...

Stagnasi Toleransi

Gagasan Toleransi akhir-akhir ini tampaknya terus tergerus tanpa daya tangkal. Toleransi di Indonesia terasa memperoleh pukulan telak setelah munculnya kasus dugaan penistaan Agama. Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok diduga telah menistakan agama lewat Qs. Al Maidah: 51. Pihak Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB.NU) telah mempermaklumkan bahwa di balik kisruh yang menasional ini, ada jurang besar terhadap masa depan toleransi berbangsa dan bernegara. Sebab di sana, justeru menjadi surga bagi mereka yang telah lama merasa 'hidup sempit-terhimpit' dengan keragaman, toleransi dan multikulturalisme.  Ajaibnya, kata Yenny Wahid, Direktur Wahid Institute, para pihak yang hari ini concern menjaga dan merawat semangat ke-bhinneka-an juga diseret pada tuduhan sebagai bagian dari partisan salah satu calon Gubernur. Sekaligus diposisikan sebagai agen kekuatan yang harus melawan gerakan radikalisme.  Dalam tinjauan opini publik, jelas telah mewabah sebagai lemparan inform...

Pemimpin Itu, Menginspirasi

Kehidupan manusia lebih banyak berada dalam bingkai ketidakpastian. Segala kemungkinan selalu saja ada. Sebelum jauh berada di lingkar kehidupan yang lebih luas, dalam ruang batin pun tetap diliputi oleh konflik kebatinan. Sebelum melerai pertarungan kehidupan di alam makro, meminjam istilah Sachiko Murata, dimensi mikro sepatutnya lebih awal mesti dijinakkan.   Bagi sebagian umat awam, yang jauh dari pusaran kuasa dan kebenaran yang 'diciptakan', suasana kebatinan seperti ini sudah seringkali terjadi. Ditambah lagi dengan maraknya gerakan konspirasi yang terlampau rumit ditarik benang merahnya. Di pentas nasional misalnya, kita sedang dihadapkan pada realitas politik saling sikat. Sekedar untuk jadi pelakon menjernihkan suasana saja, kita butuh kehati-hatian. Sebab dapat menjadi senjata makan tuan. Sebagai misal, Cendekiawan sekaliber Buya Syafii Maarif dalam usia senjanya harus menerima pil pahit atas hujatan haters yang boleh jadi tak pernah pernah bersua dengannya....

Agama, Bangsa dan Media Sosial

Sisi buram era digital tak dapat terhindarkan. Sebab kehadiran teknologi yang makin canggih nyaris berbanding lurus dengan perubahan drastis di tengah-tengah masyarakat.  Dapat dibayangkan, kecepatan berselancar di dunia maya acap kali memunculkan sikap menegasikan objek yang belum tentu dikenali seutuhnya. Tak jarang kita membenci seseorang hanya karena kebencian yang diciptakan oleh dunia maya.  Sangat sejurus dengan teori hipodermik yang digagas sejak 1930 silam. Nilai kebenaranpun bergeser, menjelma dalam standar rating atau tranding topik. Makin banyak yang mencurahkan komentar, makin tinggi pula nilai kebenarannya. Dengan standar kebenaran beralas tranding topik itu, media sosial ternyata mampu menusuk alam kesadaran manusia, untuk bergerak dengan ragam ekspresinya.  Media sosial juga telah mewujud sebagai alat paling canggih menyajikan persepsi negatif terhadap objek apapun. Di sini, pintu masuk untuk menyerang person sangat mudah. Lebih miris, sebab media s...

Pilkada, Jangan Lupa Bahagia

Keberpihakan atau memilih satu di antara banyak pilihan merupakan keniscayaan. Tidak ada ruang di dunia ini untuk berada pada banyak pilihan dalam ruang dan waktu yang bersamaan. Hukum rasionalitasnya menyatakan demikian.  Alhasil, ada banyak kemungkinan yang bakal terjadi. Salah satunya, dengan kemunculan ragam penonjolan berlebih terhadap siapa pun yang dipandang paling pantas meraih sebuah kemenangan dalam pesta demokrasi kelak. Kompetisi ini sepatutnya dimaknai sebagai arena saling menunjukkan energi positif bagi sebuah proses pembangunan di suatu daerah. Namun tak dapat dielakkan, fakta terkini selalu menampilkan banyak hal yang terkadang lepas dari prediksi dan patronase akal sehat manusia.  Kecenderungan untuk saling menghasut, menonjolkan jagoan, lalu menghinakan lawan nyaris telah dipermaklumkan sebagai tradisi yang wajar diterima. Lebih ironis, itu dianggap sebagai bagian dari dinamika berdemokrasi.  Padahal, watak ketimuran kita sejauh ini tak pern...

Media dan Pendidikan Politik

Dalam sebuah diskusi dengan sejumlah tim pemenangan (baca: tim sukses), media acapkali menjadi objek perbincangan yang cukup diseriusi. Pertanyaan utamanya; apakah media benar-benar memiliki kontribusi aktif terhadap agenda pendidikan politik? Ataukah ini sebatas sajak-sajak kompromistis agar terhindar dari praktik berhadap-hadapan dengan media. Sejauh yang kita pahami, media dipandang memiliki posisi strategis dalam proses pencerdasan publik, khususnya di ranah politik. Media dianggap mampu menginjeksi alam berpikir publik dengan sajian konten yang menarik, serta tak luput dari sensasi.  Namun harus juga diakui bahwa media, khususnya media lokal masih cenderung rigid dalam menciptakan inisiatif serta lompatan berpikir yang diprediksi belum ditangkap oleh nalar publik. Artinya, ketika nalar publik lebih cakap dan tanggap memetakan fakta politik, media akan mengalami mati suri.  Sebaliknya, jika media mampu berpikir melampaui alur pikir publik, percayalah, itu tak ...

Membaca (Kembali) Peta Sekularisme

Dalam tinjauan sepintas, sekularisme sebatas dipahami sebagai praktik pelucutan agama dari ruang kehidupan umat manusia. Sekularisme bahkan kerap dipandang senang berhadap-hadapan dengan agama hingga mewujud sebagai bagian dari musuh peradaban sepanjang zaman.   Sebatas pengetahuan tersebut, bagi Muhammad Hasan Qadrdan Qaramaliki memberi pemetaan baru dalam memahami posisi serta konsep Sekularisme. Dalam buku "Alquran dan Sekularisme (2011)", Qaramaliki memetakan sekularisme, atau lebih tegasnya, sekularisme religius dalam empat tipe.   Yakni pemisahan agama dari dunia, pemisahan agama dari politik, pemisahan agama dari pemerintahan, dan pemerintahan agamawan. Bukan Pemerintahan agama.   Jika dilihat dari kutub terbesarnya, sekularisme bersumber dari dua alas. Pertama, alas ateisme. Yakni pengingkaran penuh terhadap konsep di luar dimensi materi. Sehingga bicara soal Tuhan, malaikat serta berbagai bentuk-bentuk kegaiban lainnya, segera akan disanggah sebagai...