Langsung ke konten utama

Postingan

SIPBM; Tali Tasbih Kebijakan di Sulbar

Bicara pembangunan hari ini, seabrek gagasan serta ide saling bertemu dalam berbagai forum baik formal maupun informal. Sedemikian menggiurkannya, hingga objek perbincangan yang khas bertema pembangunan plus kebijakan publik itu kerap melibatkan banyak pihak. Untuk tak menyebutnya telah terlanjur serampangan dibincangkan. Sesungguhnya hal ini tidaklah prinsip untuk diperdebatkan lebih lanjut. Namun yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana tindak lanjut dari seluruh konten bertema pembangunan itu bakal berujung? Ataukah masih harus kandas dalam lanskap pemikiran saling menggerutu dan meratapi antar stakeholder? Sekujur tubuh tulisan ini hendak kembali menyambungkan semangat dan kreativitas sejumlah anak-anak muda di Sulawesi Barat yang secara berkesinambungan, untuk mengentalkan makna pembangunan sebenarnya. Pun hendak memberi penegasan sahih bahwa untuk bicara masa depan, kita butuh cerminan masa lalu. Atau sekurang-kurangnya kita mendambakan pijakan yang jelas agar tak...

SIPBM; Berkah Bagi Generasi Taan

Catatan dari Program SIPBM Kegembiraan tampak jelas di wajah para ibu ketika (19/09) lalu, warga Desa Taan Kecamatan Tapalang Mamuju berbondong-bondong mengantar putera dan puteri mereka masuk di lembaga Pengembangan Anak Usia Dini Holistik dan Integratif (PAUD–HI). Atau dalam masyarakat Mamuju dikenal dengan sebutan “SIOLA”. Kegembiraan ini terjadi karena penantian panjang para ibu akan sebuah fasilitas pelayanan anak usia dini (0-6 tahun), dapat hadir di dusun mereka akhirnya terwujud. Lembaga SIOLA ini didirikan sejumlah Ibu-ibu setelah mereka mendapatkan hasil pendataan Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM), yang disosialisasikan oleh Tim SIPBM Provinsi Sulawesi Barat yang digawangi Yohanis Piterson, staf Bappeda Sulbar. Program SIPBM ini merupakan Kerjasama Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat dengan Pemerintah Kabupaten Mamuju, Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan serta Unicef untuk tahun 2013 – 2015. “Kegiatan sosialisasi SIPBM ini dikemas dalam bentu...

Perlawanan Virtual

Dunia maya dewasa ini terus menunjukkan eksistensinya yang berdiri sendiri. Terpisah dari entitas sosial lainnya. Beraneka rupa disajikan, mulai dari facebook, twitter, we chat, WhatsApp, LINE hingga Kakao Talk. Ajaibnya, pengguna layanan virtual itu kerap menjadi member atas seluruh menu media sosial di layanan virtual. Eksistensi media sosial juga kian percaya diri untuk disematkan predikat sebagai pilar kelima demokrasi. Setelah ekskutif, legislatif, yudikatif dan Pers. Dengan berkaca dari layanan itu, ada banyak limpahan informasi bernada gugat, gusar, gurih, dan renyah. Semuanya teramu dari seluruh susunan wall dengan daya tampung komentator dengan kapasitas berlipat ganda. Irisan wilayah privasi pun nyaris kian terhimpit. Para pegiat spin doctor , juga kerap menjadikannya sebagai media pencitraan bagi kandidat tertentu. Mulai dari calon Presiden, hingga calon Kepala Desa. Pola ini dianggap efektif baik dari sisi pertimbangan finansial, maupun dalam sudut pandang strategi memen...

Tentang Kehancuran Para Pembesar

Setiap zaman memiliki tokoh berpengaruh. Sebagaimana halnya setiap kehadiran tokoh juga tak lepas dari 'kecocokan' zaman yang dihadapinya. Ini bukan dalam pahaman sebagai pakem yang tak tersentuh wilayah rasio. Atau sekadar menyatakan bahwa ini sudah menjadi isyarat alam (saja). Melainkan bagaimana sisi ideal tokoh berpengaruh itu mampu memerankan diri dengan cara-cara yang tepat. Sekujur tubuh tulisan ini menegaskan terma Pembesar sebagai pilihan paling akrab untuk memahami bagaimana pengaruh ketokohan sang politisi. Mula-mula seorang pembesar hadir dalam sebuah kumpulan yang seirama dalam ide maupun gagasan dengan orang lain. Mereka punya cita-cita besar merebut kekuasaan sembari menyiapkan segala ihwal pelengkapnya. Di sini jiwa dan semangat egaliter dihembuskan sebagai nafas bersama. Narasi perjuangan hingga suka duka yang melingkupinya terus disuarakan agar makin menggerus badai simpati dari segala penjuru. Membayangkan akan satu hal ini, kita akan terbawa pada kesimpul...

Jangan Ada Intimidasi Gaya Orde Baru !

Catatan di Balik Penolakan Proyek Pembangunan Embung Baruga Majene (5)   Sisi lain dari rencana pembangunan Proyek Embung yang akan dikerjakan oleh PT. Indah Seratama di Lingkungan Baruga Barat tak kalah heroiknya. Pasalnya dalam beberapa kali pertemuan, pemerintah selalu datang lengkap dengan laskar bersenjata.  Bagi warga Baruga, kehadiran aparat keamanan makin menunjukkan ada upaya penundukan dengan gaya militeristik. Persis dengan gaya orde baru. Tokoh Masyarakat Baruga, KH. Nur Husain mengaku keberatan dengan sikap pemerintah tersebut. Baginya, itu merupakan perilaku yang tak mencerminkan sikap mengayomi. “Ada apa ini? Kenapa selalu bawa-bawa aparat keamanan? Kok pemerintah kita ini terkesan memaksakan kehendak,” katanya kepada Rakyat Sulbar.  Bahkan, menurut Abdul Mannan, salah seorang pemilik lahan yang akan terkena imbas Proyek itu membeberkan, dalam setiap aktivitas pembangunan Proyek itu, pelibatan aparat keamanan tak pernah absen. “Biasa kalau mereka ...

Proyek Janggal Bisa Diganjal

Menyoal Pembangunan Bendungan Batu Empat Papalang Mamuju   Proses pembangunan bendungan sungai Papalang di Desa Batu Empat kini sedang dipantau oleh pihak DPRD Sulbar. Pasalnya proyek ini telah mengalami 2 kali penganggaran. Tahun 2013 lalu telah dianggarkan sebanyak Rp1,8 Miliar. Namun dalam pelaksanaannya, pihak CV. Sederhana selaku pemenang tender rupanya tak sanggup menuntaskan pembangunannya. Bahkan serpihan-serpihan yang ditinggalkan menunjukkan bahwa besteknya memang tak sesuai dengan kebutuhan pembangunan sebuah bendungan. Wajar jika CV. Sederhana masuk dalam salah satu temuan BPK RI di Sulawesi Barat. Selanjutnya, pada tahun 2014, kembali dianggarkan dengan besaran anggaran Rp6,8 Miliar. Dalam proses lelang, CV. Citra Putra Latarang dinyatakan sebagai pemenangnya. “Kami bekerja sejak tanggal 16 Juni 2014, Pak,” kata Koordinator Teknis Lapangan, Muslimin. Persoalannya pun belum usai. Pasca dibangunnya bendungan tersebut, sejumlah warga mulai harap-harap cemas. Pasalnya...

1,2T

Pasca kedatangan Presiden RI Joko Widodo di Sulawesi Barat ternyata cukup memberi arti penting akan banyak hal. Kelaziman-kelaziman yang selama ini dipertontonkan oleh para pejabat tersulap habis, tergantikan dengan tampilan serba sederhana. Tak ada penyambutan mewah maupun kendaraan mewah yang terlintas hari itu. Semuanya melebur dalam satu isyarat ala Jokowi; kinerja lebih penting dari sekedar retorika belaka. Presiden ketujuh ini juga hadir dengan kabar segar. Kucuran dana untuk menyokong program Gernas Kakao dilontarkan dengan jumlah yang sangat bombastis. Sebanyak Rp1,2 triliun rencananya akan ‘ditransfer’ oleh pemerintah, khusus untuk mempercepat program Gernas Kakao.  Dengan sokongan yang sangat besar itu, harapannya tentu agar tak lagi terdengar bahwa pemerintah hanya menggoreskan rencana tanpa ditopang oleh kebijakan anggaran yang nyata. Mendahului seluruh kegirangan itu, kita mesti benar-benar berpikir lapang untuk mendudukkan ‘marwah’ Rp1,2 Triliun ini pada urgensi me...