Langsung ke konten utama

Postingan

Pelajaran Penting Bagi Golkar

Hasil real count ataupun quick count pemilu tahun ini benar-benar memunculkan banyak kejutan. Betapa tidak, Partai Demokrat yang selama ini tidak begitu diunggulkan, tiba-tiba melenggang menjadi partai yang begitu percaya diri dalam menempatkan SBY sebagai kandidat presiden mendatang. Bahkan, menurut pandangan para pengamat, tanpa bergandengan dengan JK-pun, SBY masih tetap menjadi figur pemimpin terbaik. Begitu berharganya posisi nilai tawar partai demokrat saat ini, membuat partai berlambang pohon beringin tampak ciut, tak berdaya. Hingga, sekedar untuk berbicara martabat partaipun sudah enggan untuk dibicarakan. Tidak hanya itu, Jusuf Kalla yang juga sebagai Ketua Umum Partai Golkar, yang sebelumnya digadang-gadang akan diususlkan menjadi Capres pada pilpres mendatang, kini telah surut dan mulai gamang untuk di publish ke publik. Beberapa bukti-bukti lain juga turut mendukung. Salah satunya adalah di saat partai-partai lain sedang memainkan konsolidasi bargaining antar partai, se...

Belajar Dari Naga Bonar Dan Ahmadinejad

Seorang aktor kawakan, yang pernah memperoleh penghargaan dari Presiden SBY, karena terharu dengan hasil garapannya dalam sinetron yang diberi judul “Kiamat sudah dekat”, bernama Deddy Mizwar kembali menorehkan jasanya pada dunia perfilman. Dia bertindak sebagai sutradara sekaligus membintangi karya monumentalnya. Di dalamnya terungkap sebagian besar dari realitas yang sedang kita hadapi. Deddy Mizwar yang melakonkan figur seorang Nagabonar, begitu piawai dalam menerjemahkan berbagai keresahan kolektif bangsa, hingga menjadi tontonan yang mengharukan jiwa. Dalam cerita tersebut digambarkan, bahwa pada suatu ketika, Nagabonar dihalangi oleh seorang polisi. Lalu dengan sekedar gertakan otoritas bahwa dia mengaku sebagai seorang Jenderal, maka dengan serta merta Sang polisi itupun ketakutan terbirit-birit. Takut akan nasib pangkatnya sebagai polisi, takut dengan hukuman dari atasannya. Demikianlah realitas tersebut digambarkan dalam nuansa yang lucu, namun mengejek wajah institusi kepolis...

Urgensi Penafsiran al-Qur'an Mazhab Indonesia

Al-Quran sebagai petunjuk yang diturunkan oleh Allah swt bagi seluruh umat manusia, memiliki citi-cita ideal untuk membentuk para pembacanya menjadi manusia yang sempurna, baik secara personal maupun secara komunal. Tidak hanya itu, al-Quran juga berfungsi sebagai syifa (penawar) bagi siapa saja yang mengalami keresahan jiwa. Dalam perkembangannya, ternyata proses menuju pemahaman yang komprehensif seringkali sulit ditemukan, utamanya ketika disandingkan dengan beberapa karya tafsir. Banyaknya perbedaan pandangan dalam memahami al-Quran tidak jarang semakin memperuncing masalah, khususnya yang terkait dengan persoalan khilafiyah. Karenanya, dibutuhkan sebuah diskusi panjang untuk mendudukkan masalah ini dan memberikan tanggapan secara proporsional. Memahami Tafsir Sebagaimana lazimnya, sebuah penafsiran tidaklah selalu persis dengan maksud al-Quran yang sebenarnya. Nasr Hamid Abu Zaid dalam bukunya yang berjudul Tekstualitas al-Quran: Kritik Wacana Ulumul Quran menyatakan bahwa ketika ...

Majene Dan Skenario Besar Menuju Pilkada

Hangat!!! Begitulah respon saya ketika mencoba menelusuri realitas politik yang mulai mengerucut di Majene. Di Kabupaten terkecil yang berpenduduk sekitar seratus lima puluh ribu jiwa di Sulbar inilah, sejumlah politisi-birokrat, atau birokrat-politisi saling berkompetisi menuju kursi empuk nomor wahid, Bupati Majene. Memang, persoalan Pilkada di Majene terbilang terlalu dini untuk dibicarakan. Apalagi perjalanan pemerintahan hari ini masih harus menempuh sekian banyak program yang belum ditunaikan, entah program untuk rakyat ataupun untuk yang lain. Akan tetapi, kitapun tentu tidak dapat menutup mata akan setiap modus operandi yang dilakonkan oleh beberapa tokoh yang disinyalir akan menjadi kontestan pilkada nantinya. Yang jelas, di mata rakyat hari ini, terekam sebuah pesan tersirat bahwa setiap kebaikan harus dibalas dengan garansi politik pada pilkada mendatang. Tulisan ini, tentu diharapkan dapat menjadi referensi ke depan dalam menelaah setiap realitas politik yang dapat berubah ...

Ketika Kebahagiaan disalah ukuri

Tulisan ini merupakan ulasan atas hasil perbincangan saya dengan sekumpulan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok mejelis taklim “Tazkiyatunnufus” di Kelurahan Pangali-ali Kab. Majene. Sore itu, saya mendatangi kaum ibu-ibu dengan bermodalkan sebuah buku kecil (karena tidak Pe-de disebut Ustadz), berjudul “Meraih kebahagiaan”, karya Jalaluddin Rakhmat (2006). Dari sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh Ibu-ibu tersebut, saya merasa tertantang untuk menyelami lebih dalam karena memiliki kekuatan faktawi. Tentu, sebagai instrumen saya dalam melakukan analisa lebih lanjut. Sepekan kemudian saya kembali mengutak-atik beberapa buku yang menumpuk di lemari saya yang sudah tidak layak jual. Dan kutemukan salah satu karya emas Martin EP. Seligman, berjudul “Authentic Happines”. Saat membaca ulasan awal Kang Jalal, saya langsung dibenturkan dengan masalah yang sangat teosentris. Beliau membongkar cakrawala berfikir saya dengan satu kalimat; “Demi perjuangan, campakkan kebahagiaan !!!”. Semakin ...

Parpol di Tengah redupnya Isu Lokal

Keberadaaan parpol saat ini mengalami ambiguitas di mata publik. Pada satu sisi, parpol merupakan bagian dari sebuah sistem yang berlaku di negara ini. Sedang pada sisi yang lain, fakta sosial membeberkan citra yang lain, karena parpol saat ini mengalami “cedera berat” akibat ulah elit politik yang saling berbondong-bondong menuju meja hijau di pengadilan. Kasusnya bermacam-macam. Ada yang disebabkan oleh kelalailan administratif, korupsi, suap, hingga pada persoalan perempuan (selingkuh). Fakta ini menunjukkan kepada kita semua akan keberadaan parpol hingga hari ini, belumlah dapat merepresentasikan diri sebagai alat ampuh dalam mengelola dan mengawasi sistem yang sedang dan akan berlangsung. Belum lagi dengan jumlah partai yang semakin membengkak hingga ke level 34. Direktur Sekolah Demokrasi Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, mengatakan, jumlah peserta pemilu 2009 mendatang semakin membuktikan dua kegagalan sekaligus, politikus gagal mengendalikan eufhoria pendirian partai, serta gagal...

Bencana tidak datang tanpa sebab

Dalam sepekan terakhir, kita mendengar teriakan histeris dari berbagai sudut dan belahan dunia. Pada mulanya, kita disuguhi “kado” awal tahun ini dengan serangan bom yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap penduduk Gaza, Palestina. Tidak sedikit di antara yang meninggal adalah masyarakat sipil. Dan, “kado” yang kedua justeru menghentakkan kita di saat hujan mengguyur beberapa hari terakhir. Di Tinambung Polewali Mandar, puluhan bahkan ratusan rumah porak-poranda akibat banjir. Beberapa rumah ibadah terpaksa “diliburkan” karena penuh dengan lumpur. Warga yang hendak mandi terpaksa menunggu waktu petang untuk sekedar bersembunyi di balik tirai kegelapan. Peristiwa pilu juga terjadi di Majene. Untuk kedua kalinya, setelah kasus Adam Air, Majene kembali menjadi sorotan media nasional dengan tenggelamnya Kapal Penumpang Teratai Prima Kosong yang mengangkut sekitar 200 Orang lebih dari Pare-pare menuju Samarinda Kalimantan Timur. Korban yang ditemukan baru sekitar 18 orang. Kejadian sebe...